Tuesday, October 2, 2018

Makalah Evaluasi Belajar


Hasil gambar untuk evaluasi
BAB I
PENDAHULUAN

  1. LatarBelakang
Pengembangankurikulummerupakan proses yang tidakpernahberakhir (Oliva, 1998). Proses tersebutmeliputiperencanaan, implementasi, danEvaluasi. Merujukpadapendapattersebut, makaevaluasimerupakanbagian yang tidakdapatdipisahkandalampengembangankurikulum. Melaluievaluasi, dapatditentukannilaidanartikurikulum, sehinggadapatdijadikanbahanpertimbanganapakahsuatukurikulumperludipertahankanatautidak, danbagian-bagian mana yang perludisempurnakan.
Untukmelihatsejauh mana tingkatkeberhasilandalampelaksanaankurikulum, makadiperlukanevaluasi. Mengingatkomponenevaluasiinisangatberhubunganeratdengansemuakomponenlainnya, makadenagancaraevaluasiataupenilaianiniakanmengetahuitingkatkebeerhasilandarisemuakomponen.
  1. RumusanMasalah
1.      ApaPengertian Evaluasi?
2.      Apa Fungsi Evaluasi?
3.      Apa Tujuan Evaluasi?
4.      Apa Saja Prinsip Penilaian?
5.      Apa Saja Jenis-Jenis Evaluasi?
6.      Bagaimana Langkah-LangkahPokokDalamEvaluasiHasilBelajar?
7.      Apa Saja HasilBelajarSebagaiObjekEvaluasi?

  1. Tujuan
1.      Untukmengetahuipengertianevaluasi
2.      Untuk mengetahui fungsi evaluasi
3.      Untuk mengetahui tujuan evaluasi
4.      Untuk mengetahui prinsip penilaian
5.      Untuk mengetahui jenis-jenis evaluasi
6.      Untuk mengetahui langkah-langkah pokok dalam evaluasi hasil belajar
7.      Untuk mengetahui hasil belajar sebagai objek evaluasi




BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Evaluasi
Evaluasi adalah suatu tindakan atau suatu proses untuk menetukan nilai dari sesuatu. Evaluasi dalam pendidikan dapat diartikan sebagai suatu proses dalam usaha untuk mengumpulkan informasi yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk membuat keputusan akan perlu tidaknya memperbaiki sistem pembelajaran sesuai dengan tujuan yang akan ditetapkan[1]. Seperti yang dikutip Sukmadinata menyatakan bahwa evaluasi adalah proses untuk mengetahui apakah tujuan pendidikan sudah tercapai atau terrealisasikan[2].
Evaluasi sering dianggap sebagai kegiatan akhir dari suatu proses kegiatan. Evaluation is often considered to be the final step in overall process, demikian diungkapkan Miller (1985). Siswa dievaluasi setelah ia selesai melakukan suatu pelajaran, apakah ia berhasil atau tidak setelah mengalami masa percobaan.
Beberapa cara yang dapat digunakan untuk melaksanakan evaluasi antara lain :
1.      Mengadakan evaluasi dan memberi umpan balik terhadap kinerja siswa.
2.      Memberikan evaluasi yang obyektif dan adil serta segera meniginformasikan hasil evaluasi kepada siswa.
3.      Memberi kesempatan kepada siswa mengadakan evaluasi terhadap diri sendiri.
4.      Memberi kesempatan kepada siswa mengadakan evaluasi terhadap teman.
B.     Fungsi Evaluasi
1.      Evaluasi merupakan alat yang penting sebagai umpan balik bagi siswa.
2.      Evaluasi merupakan alat yang penting untuk mengetahui bagaimana ketercapaian siswa dalam menguasai tujuan yang telah ditentukan
3.      Evaluasi dapat memberikan informasi untuk mengembangkan program kurikulum
4.      Alat untuk mengetahui tercapai-tidaknya tujuan instruksional.
5.      Dasar dalam menyusun laporan kemajuan belajar siswa kepada para orang tuanya.
C.    Tujuan Evaluasi
1.      Mendeskripsikan kecakapan belajar para siswa sehingga dapat diketahui kelebihan dan kekurangannya dalam berbagai bidang studi atau mata pelajaran yang ditempuhnya.
2.      Megetahui keberhasilan proses pendidikan dan pengajaran di sekolah, yakni seberapa jauh keefektifannya dalam mengubah tingkah laku para siswa ke arah tujuan pendidikan yang diharapkan.
3.      Menentukan tindak lanjut hasil penilaian, yakni melakukan perbaikan dan penyempurnaan dalam hal program pendidikan dan pengajaran serta strategi pelaksanaannya.
4.      Memberikan pertanggungjawaban pihak sekolah kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Pihak yang dimaksud meliputi pemerintah, masyarakat, dan para orang tua siswa.
Menurut Anas (1995), tujuan evaluasi pendidikan terdiri atas dua yaitu:
Ø  Tujuan Umum
Secara umum, tujuan evaluasi dalam bidang pendidikan ada dua, yaitu:
a.       Untuk menghimpun bahan-bahan keterangan yang akan dijadikan sebagai bukti mengenai taraf perkembangan atau taraf kemajuan yang dialami oleh para peserta didik, setelah mereka mengikuti proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu.
b.      Untuk mengetahui tingkat efektivitas dari metode-metode pengajaran yang telah dipergunakan dalam proses pembelajaran selama jangka waktu tertentu.
Ø  Tujuan Khusus
Adapun yang menjadi tujuan khusus dari kegiatan evaluasi dalam bidang pendidikan yaitu:
a.       Untuk merangsang kegiatan peserta didik dalam menempuh program pendidikan. Tanpa adanya evaluasi maka tidak mungkin timbul kegairahan atau rangsangan pada diri peserta didik untuk memperbaiki dan meningkatkan prestasinya masing-masing.
b.      Untuk mencari dan menemukan faktor-faktor penyebab keberhasilan dan ketidakberhasilan peserta didik dalam mengikuti program pendidikan, sehingga dapat dicari dan ditemukan jalan keluar atau cara-cara perbaikannya.
D.    Prinsip Penilaian
Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI No. 20 tahun 2007 ditegaskan bahwa penilaian hasil belajar peserta didik pada jenjang pendidikan dasar dan menengah didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut:
1.      Sahih, berarti penilaian didasarkan pada data yang mencerminkan kemampuan yang diukur.
2.      Objektif, berarti penilaian didasarkan pada prosedur dan kriteria yang jelas, tidak dipengaruhi subjektivitas penilai.
3.      Adil, berarti penilaian tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik karena berkebutuhan khusus serta perbedaan latar belakang agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan gender.
4.      Terpadu, berarti penilaian oleh pendidik merupakan salah satu komponen yang tak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran.
5.      Terbuka, berarti prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar pengambilan keputusan dapat diketahui oleh pihak yang berkepentingan.
6.      Menyeluruh dan berkesinambungan, berarti penilaian oleh pendidik mencakup semua aspek kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik penilaian yang sesuai, untuk memantau perkembangan kemampuan peserta didik.
7.      Sistematis, berarti penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap dengan mengikuti langkah-langkah baku.
8.      Beracuan kriteria, berarti penilaian didasarkan pada ukuran pencapaian kompetensi yang ditetapkan.
9.      Akuntabel, berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan, baik dari segi teknik, prosedur, maupun hasilnya.[3]
E.     Jenis-Jenis Evaluasi
Dapat dilihat dari fungsinya, jenis penilaian ada beberapa macam, yaitu:
·         Penilaian Formatif: Penilaian yang dilaksanakan pada akhir program belajar-mengajar untuk melihat tingkat keberhasilan proses belajar-mengajar itu sendiri. Dengan demikian, penilaian formatif berorientasi kepada proses belajar-mengajar. Dengan penilaian formatif diharapkan guru dapat memperbaiki program pengajaran dan strategi pelaksanaannya.
·         Penilaian Sumatif: Penilaian yang dilaksanakan pada akhir unit program, yaitu akhir semester, dan akhir tahun. Tujuannya adalah untuk melihat hasil yang dicapai oleh para siswa, yakni seberapa jauh tujuan-tujuan kurikuler dikuasai oleh para siswa.
·         Penilaian Diagnostik: Penilaian yang bertujuan untuk melihat kelemahan-kelemahan siswa serta faktor penyababnya. Penilaian ini dilaksanakan untuk keperluan bimbingan belajar, pengajaran remedial (remedial teaching), menemukan kasus-kasus. Soal-soal tentunya disusun agar dapat ditemukan jenis kesulitan belajar yang dihadapi oleh para siswa.
·         Penilaian Selektif: Penilaian yang bertujuan untuk keperluan seleksi, misalnya ujian saringan masuk ke lembaga pendidikan tertentu.
·         Penilaian Penempatan: Penilaian yang ditujukan untuk mengetahui keterampilan prasyarat yang diperlukan bagi suatu program belajar dan penguasaan belajar seperti yang diprogramkan sebelum memulai kegiatan belajar untuk program itu.
F.     Langkah-Langkah Pokok Dalam Evaluasi Hasil Belajar
·         Menyusun rencana evaluasi hasil belajar
Sebelum evaluasi hasil belajar dilaksanakan, harus disusun terlebih dahulu perencanaannya secara baik dan matang. Perencanaan evaluasi hasil belajar itu umumnya mencakup enam jenis kegiatan, yaitu:
a.       Merumuskan tujuan dilaksanakannya evaluasi. Perumusan tujuan evaluasi hasil belajar itu penting sekali.
b.      Menetapkan aspek-aspek yang akan dievaluasi, misalnya apakah aspek kognitif, aspek afektif, ataukah aspek psikomotorik.
c.       Memilihdanmenentukanteknik yang akandipergunakan di dalampelaksanaanevaluasi, misalnyaapakahevaluasiituakandilaksanakandengantekniktesatauteknik non tes.
d.      Menyusun alat-alat pengukur yang akan dipergunakan dalam pengukuran dan penilaian hasil belajar.
e.       Menentukan tolak ukur, norma atau kriteria yang akan dijadikan pegangan atau patokan dalam memberikan interpretasi terhadap data hasil evaluasi.
f.       Menentukan frekuensi dari kegiatan evaluasi hasil belajar itu sendiri.
·         Menghimpun data
·         Melakukan verifikasi data
·         Mengolah dan menganalisis data
·         Memberikan interpretasi dan menarik kesimpulan
·         Tindak lanjut hasil evaluasi[4]
G.    Hasil Belajar Sebagai Objek Evaluasi
Pertanyaan pokok sebelum melakukan evaluasi ialah apa yang harus dinilai itu. Terhadap pertanyaan ini kita kembali kepada unsur-unsur yang terdapat dalam proses belajar-mengajar, yakni tujuan, bahan, metode dan alat serta penilaian. Tujuan sebagai arah dari proses belajar mengajar pada hakekatnya adalah rumusan tingkah laku yang diharapkan dapat dikuasai oleh siswa setelah menerima atau menempuh pengalaman belajarnya (Nana, 1989).
Proses adalah kegiatan yang dilakukan oleh siswa dalam mencapai tujuan pengajaran, sedangkan hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Horward Kingsley membagi tiga macam hasil belajar, yakni (a) keterampilan dan kebiasaan, (b) pengetahuan dan pengertian, (c) sikap dan cita-cita. Dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan, baik tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional, menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom yang secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah, yakni ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.
Ø  Ranah Kognitif
·         Pengetahuan
Istilah pengetahuan merupakan terjemahan dari kata knowledge dalam taksonomi Bloom. Sekalipun demikian, maknanya tidak sepenuhnya tepat sebab dalam istilah tersebut termasuk pula pengetahuan faktual di samping pengetahuan hafalan atau diingat seperti rumus, batasan, definisi, istilah, pasal dalam undang-undang, nama-nama tokoh, nama-nama kota.
·         Pemahaman
Tipe hasil belajar yang lebih tinggi daripada pengetahuan adalah pemahaman. Misalnya menjelaskan dengan susunan kalimatnya sendiri sesuatu yang dibaca atau didengarnya, memberi contoh lain dari yang telah dicontohkan atau menggunakan petunjuk penerapan pada kasus lain. Pemahaman dapat dibedakan ke dalam tiga kategori, tingkat pertama(terendah) adalah pemahaman terjemahan, mulai dari terjemahan dalam arti yang sebenarnya, misalnya dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia, mengartikan Bhinneka Tunggal Ika, mengartikan merah putih. Tingkat kedua adalah pemahaman penafsiran, yakni menghubungkan bagian-bagian terdahulu dengan yang diketahui berikutnya. Tingkat ketiga atau tingkat tertinggi adalah pemahaman ekstrapolasi. Membuat contoh item pemahaman tidaklah mudah. Sebagian item pemahaman dapat disajikan dalam gambar, denah, diagram, atau grafik.
·         Aplikasi
Adalah penggunaan abstraksi pada situasi konkrit atau situasi khusus. Abstraksi tersebut mungkin berupa ide, teori, atau petunjuk teknis. Menerapkan abstraksi ke dalam situasi baru disebut aplikasi.


·         Analisis (Analysis)
Diartikan kemampuan menjabarkan atau menguraikan suatu konsep menjadi bagian-bagian yang lebih rinci, memilah-milih, merinci, mengaitkan hasil rinciannya. Contoh: Mahasiswa dapat menentukan hubungan berbagai variabel penelitian dalam mata kuliah Metodologi Penelitian.
·         Sintetis (Synthetis)
Diartikan kemampuan menyatukan bagian-bagian secara terintegrasi menjadi suatu bentuk tertentu yang semula belum ada. Contoh: Mahasiswa dapat menyusun rencana atau usulan penelitian dalam bidang yang diminati pada mata kuliah Metodologi Penelitian.
·         Evaluasi (Evaluation)
Diartikan kemampuan membuat penilaian judgment tentang nilai (value) untuk maksud tertentu. Contoh: Mahasiswa dapat memperbaiki program-program computer yang secara fisik tampak kurang baik dan kurang efisien pada mata kuliah Algoritma dan pemrograman (Suparman, 2001).
Ø  Ranah Afektif
Ranah afektif adalah satu domain yang berkaitan dengan sikap, nilai-nilai interest, apresiasi atau penghargaan dan penyesuaian perasaan sosial. Tingkatan afektif ini ada 5, yaitu:
·         Kemauan Menerima
berarti keinginan untuk memperhatikan suatu gejala atau rancangan tertentu seperti keinginan membaca buku, mendengar music, atau bergaul dengan orang yang mempunyai ras berbeda.
·         Kemauan Menanggapi
Berarti kegiatan yang menunjuk pada partisipasi aktif kegiatan tertentu seperti menyelesaikan tugas terstruktur, menaati peraturan, mengikuti diskusi kelas, menyelesaikan tugas dilaboratorium atau menolong orang lain.
·         Berkeyakinan
Berarti kemauan menerima sistem nilai tertentu pada individu seperti menunjukkan kepercayaan terhadap sesuatu, apresiasi atau penghargaan terhadap sesuatu, sikap ilmiah atau kesungguhan untuk melakukan suatu kehidupan sosial.


·         Penerapan Karya
Berarti penerimaan terhadap berbagai sistem nilai yang berbeda-beda berdasarkan pada suatu sistem nilai yang lebih tinggi, seperti menyadari pentingnya keselarasan antara hak dan tanggung jawab, bertanggung jawab terhadap hal yang telah dilakukan, memahami dan menerima kelebihan dan kekurangan diri sendiri.
·         Ketekunan Dan Ketelitian
Berarti individu yang sudah memiliki sistem nilai selalu menyelaraskan perilakunya sesuai dengan sistem nilai yang dipegangnya, seperti bersikap objektif terhadap segala hal.
Ø  Ranah Psikomotorik
Ranah psikomotor berkaitan dengan ketrampilan atau skill yang bersikap manual atau motorik. Tingkatan psikomotor ini meliputi:
·         Persepsi: Berkenaan dengan penggunaan indra dalam melakukan kegiatan. Contoh: mengenal kerusakan mesin dari suaranya yang sumbang.
·         Kesiapan melakukan suatu kegiatan: Berkenaan dengan melakukan sesuatu kegiatan atau set termasuk di dalamnya mental set atau (kesiapan mental), physical set (Kesiapan fisik) atau emotional set(Kesiapan emosi perasaan untuk melakukan suatu tindakan).
·         Mekanisme: Berkenaan dengan penampilan respon yang sudah dipelajari dan menjadi kebiasan sehingga gerakan yang ditampilkan menunjukkan kepada suatu kemahiran. Contoh: menulis halus, menari, menata laboratorium dan menata kelas.
·         Respon terbimbing: Berkenaan dengan meniru (imitation) atau mengikuti, mengulangi perbuatan yang diperintahkan atau ditunjukkan oleh orang lain, melakukan kegiatan coba-coba (trial and error).
·         Kemahiran: Berkenaan dengan penampilan gerakan motorik dengan ketrampilan penuh. Kemahiran yang dipertunjukkan biasanya cepat, dengan hasil yang baik namun menggunakan sedikit tenaga. Contoh: tampilan menyetir kendaran bermotor.
·         Adaptasi: Berkenaan dengan ketrampilan yang sudah berkembang pada diri individu sehingga yang bersangkutan mampu memodifikasi pada pola gerakan sesuai dengan situasi dan kondisi tertentu. Contoh: orang yang bermain tenis, pola-pola gerakan disesuaikan dengan kebutuhan mematahkan permainan lawan.
·         Organisasi: Berkenaan dengan penciptaan pola gerakan baru untuk disesuaikan dengan situasi atau masalah tertentu, biasanya hal ini dapat dilakukan oleh orang yang sudah mempunyai ketrampilan tinggi, seperti menciptakan model pakaian, menciptakan tarian, komposisi musik (Uno, 2008).[5]


























BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Untuk meningkatkan mutu pembelajaran dibutuhkan sistem evaluasi yang tepat, karena peserta didik memiliki berbagai kemampuan yang berbeda-beda, maka sistem evaluasi yang digunakan harus terintegrasi dan mampu mengukur semua kemampuan yang ada pada peserta didik. Evaluasi pendidikan tidak hanya digunakan untuk mengukur ranah kognitif peserta didik, tetapi juga harus menilai ranah afektif dan psikomotoriknya.


[1] Sukardi, Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2009), hal.1
[2] Rusman, Manajemen Kurikulum, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2009), hal.93
[3] Missy Maesih, “Prinsip-Prinsip Penilaian Beserta Penerapan/Contohnya”, diakses dari https://missymaesih.wordpress.com/2012/09/23/prinsip-prinsip-penilaian-beserta-penerapancontohnya/, pada tanggal 21 September 2018 pukul 12.03.
[4]Kaharuddin Eka Putra, “Langkah-Langkah Evaluasi Hasil Pembelajaran”, diakses dari http://kumpulanmakalahdanartikelpendidikan.blogspot.com/2011/01/evaluasi-hasil-belajar.html, pada tanggal 21 September 2018 pukul 12.15.
[5]Gema Didaktika, “Komponen Evaluasi Pembelajaran”, diakses dari http://gemadidaktika.blogspot.com/2012/06/komponen-evaluasi-pembelajaran.html, pada tanggal 21 September 2018 pukul 12.30.

0 comments:

Post a Comment

Monggo Komentarnya. . .