BAB I
PENDAHULUAN
- LatarBelakang
Pengembangankurikulummerupakan proses yang
tidakpernahberakhir (Oliva, 1998). Proses tersebutmeliputiperencanaan,
implementasi, danEvaluasi. Merujukpadapendapattersebut,
makaevaluasimerupakanbagian yang tidakdapatdipisahkandalampengembangankurikulum.
Melaluievaluasi, dapatditentukannilaidanartikurikulum,
sehinggadapatdijadikanbahanpertimbanganapakahsuatukurikulumperludipertahankanatautidak,
danbagian-bagian mana yang perludisempurnakan.
Untukmelihatsejauh mana tingkatkeberhasilandalampelaksanaankurikulum,
makadiperlukanevaluasi.
Mengingatkomponenevaluasiinisangatberhubunganeratdengansemuakomponenlainnya,
makadenagancaraevaluasiataupenilaianiniakanmengetahuitingkatkebeerhasilandarisemuakomponen.
- RumusanMasalah
1.
ApaPengertian Evaluasi?
2.
Apa Fungsi Evaluasi?
3.
Apa Tujuan Evaluasi?
4.
Apa Saja Prinsip Penilaian?
5.
Apa Saja Jenis-Jenis Evaluasi?
6.
Bagaimana Langkah-LangkahPokokDalamEvaluasiHasilBelajar?
7.
Apa Saja HasilBelajarSebagaiObjekEvaluasi?
- Tujuan
1.
Untukmengetahuipengertianevaluasi
2.
Untuk mengetahui fungsi evaluasi
3.
Untuk mengetahui tujuan evaluasi
4.
Untuk mengetahui prinsip penilaian
5.
Untuk mengetahui jenis-jenis evaluasi
6.
Untuk mengetahui langkah-langkah pokok dalam
evaluasi hasil belajar
7.
Untuk mengetahui hasil belajar sebagai objek
evaluasi
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Evaluasi
Evaluasi
adalah suatu tindakan atau suatu proses untuk menetukan nilai dari sesuatu.
Evaluasi dalam pendidikan dapat diartikan sebagai suatu proses dalam usaha
untuk mengumpulkan informasi yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan
untuk membuat keputusan akan perlu tidaknya memperbaiki sistem pembelajaran
sesuai dengan tujuan yang akan ditetapkan[1].
Seperti yang dikutip Sukmadinata menyatakan bahwa evaluasi adalah proses untuk
mengetahui apakah tujuan pendidikan sudah tercapai atau terrealisasikan[2].
Evaluasi
sering dianggap sebagai kegiatan akhir dari suatu proses kegiatan. Evaluation
is often considered to be the final step in overall process, demikian
diungkapkan Miller (1985). Siswa dievaluasi setelah ia selesai melakukan suatu
pelajaran, apakah ia berhasil atau tidak setelah mengalami masa percobaan.
Beberapa
cara yang dapat digunakan untuk melaksanakan evaluasi antara lain :
1. Mengadakan
evaluasi dan memberi umpan balik terhadap kinerja siswa.
2. Memberikan
evaluasi yang obyektif dan adil serta segera meniginformasikan hasil evaluasi
kepada siswa.
3. Memberi
kesempatan kepada siswa mengadakan evaluasi terhadap diri sendiri.
4. Memberi
kesempatan kepada siswa mengadakan evaluasi terhadap teman.
B.
Fungsi Evaluasi
1. Evaluasi
merupakan alat yang penting sebagai umpan balik bagi siswa.
2. Evaluasi
merupakan alat yang penting untuk mengetahui bagaimana ketercapaian siswa dalam
menguasai tujuan yang telah ditentukan
3. Evaluasi
dapat memberikan informasi untuk mengembangkan program kurikulum
4. Alat
untuk mengetahui tercapai-tidaknya tujuan instruksional.
5. Dasar
dalam menyusun laporan kemajuan belajar siswa kepada para orang tuanya.
C.
Tujuan Evaluasi
1. Mendeskripsikan
kecakapan belajar para siswa sehingga dapat diketahui kelebihan dan
kekurangannya dalam berbagai bidang studi atau mata pelajaran yang ditempuhnya.
2. Megetahui
keberhasilan proses pendidikan dan pengajaran di sekolah, yakni seberapa jauh
keefektifannya dalam mengubah tingkah laku para siswa ke arah tujuan pendidikan
yang diharapkan.
3. Menentukan
tindak lanjut hasil penilaian, yakni melakukan perbaikan dan penyempurnaan
dalam hal program pendidikan dan pengajaran serta strategi pelaksanaannya.
4. Memberikan
pertanggungjawaban pihak sekolah kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Pihak
yang dimaksud meliputi pemerintah, masyarakat, dan para orang tua siswa.
Menurut Anas (1995), tujuan evaluasi pendidikan terdiri atas dua
yaitu:
Ø Tujuan
Umum
Secara umum, tujuan evaluasi dalam bidang
pendidikan ada dua, yaitu:
a. Untuk
menghimpun bahan-bahan keterangan yang akan dijadikan sebagai bukti mengenai
taraf perkembangan atau taraf kemajuan yang dialami oleh para peserta didik,
setelah mereka mengikuti proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu.
b. Untuk
mengetahui tingkat efektivitas dari metode-metode pengajaran yang telah
dipergunakan dalam proses pembelajaran selama jangka waktu tertentu.
Ø Tujuan
Khusus
Adapun yang menjadi tujuan khusus dari kegiatan evaluasi dalam bidang
pendidikan yaitu:
a. Untuk
merangsang kegiatan peserta didik dalam menempuh program pendidikan. Tanpa
adanya evaluasi maka tidak mungkin timbul kegairahan atau rangsangan pada diri
peserta didik untuk memperbaiki dan meningkatkan prestasinya masing-masing.
b. Untuk
mencari dan menemukan faktor-faktor penyebab keberhasilan dan ketidakberhasilan
peserta didik dalam mengikuti program pendidikan, sehingga dapat dicari dan
ditemukan jalan keluar atau cara-cara perbaikannya.
D.
Prinsip Penilaian
Dalam
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI No. 20 tahun 2007 ditegaskan bahwa
penilaian hasil belajar peserta didik pada jenjang pendidikan dasar dan
menengah didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Sahih,
berarti penilaian didasarkan pada data yang mencerminkan kemampuan yang diukur.
2. Objektif,
berarti penilaian didasarkan pada prosedur dan kriteria yang jelas, tidak
dipengaruhi subjektivitas penilai.
3. Adil,
berarti penilaian tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik karena
berkebutuhan khusus serta perbedaan latar belakang agama, suku, budaya, adat
istiadat, status sosial ekonomi, dan gender.
4. Terpadu,
berarti penilaian oleh pendidik merupakan salah satu komponen yang tak
terpisahkan dari kegiatan pembelajaran.
5. Terbuka,
berarti prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar pengambilan keputusan
dapat diketahui oleh pihak yang berkepentingan.
6. Menyeluruh
dan berkesinambungan, berarti penilaian oleh pendidik mencakup semua aspek
kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik penilaian yang sesuai, untuk
memantau perkembangan kemampuan peserta didik.
7. Sistematis,
berarti penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap dengan mengikuti
langkah-langkah baku.
8. Beracuan
kriteria, berarti penilaian didasarkan pada ukuran pencapaian kompetensi yang
ditetapkan.
9. Akuntabel,
berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan, baik dari segi teknik, prosedur,
maupun hasilnya.[3]
E.
Jenis-Jenis Evaluasi
Dapat dilihat dari fungsinya, jenis penilaian ada beberapa macam,
yaitu:
·
Penilaian Formatif: Penilaian yang
dilaksanakan pada akhir program belajar-mengajar untuk melihat tingkat
keberhasilan proses belajar-mengajar itu sendiri. Dengan demikian, penilaian
formatif berorientasi kepada proses belajar-mengajar. Dengan penilaian formatif
diharapkan guru dapat memperbaiki program pengajaran dan strategi
pelaksanaannya.
·
Penilaian Sumatif: Penilaian yang dilaksanakan
pada akhir unit program, yaitu akhir semester, dan akhir tahun. Tujuannya
adalah untuk melihat hasil yang dicapai oleh para siswa, yakni seberapa jauh
tujuan-tujuan kurikuler dikuasai oleh para siswa.
·
Penilaian Diagnostik: Penilaian yang bertujuan
untuk melihat kelemahan-kelemahan siswa serta faktor penyababnya. Penilaian ini
dilaksanakan untuk keperluan bimbingan belajar, pengajaran remedial (remedial
teaching), menemukan kasus-kasus. Soal-soal tentunya disusun agar dapat
ditemukan jenis kesulitan belajar yang dihadapi oleh para siswa.
·
Penilaian Selektif: Penilaian yang bertujuan
untuk keperluan seleksi, misalnya ujian saringan masuk ke lembaga pendidikan
tertentu.
·
Penilaian Penempatan: Penilaian yang ditujukan
untuk mengetahui keterampilan prasyarat yang diperlukan bagi suatu program
belajar dan penguasaan belajar seperti yang diprogramkan sebelum memulai
kegiatan belajar untuk program itu.
F.
Langkah-Langkah
Pokok Dalam Evaluasi Hasil Belajar
·
Menyusun rencana evaluasi hasil belajar
Sebelum evaluasi hasil belajar dilaksanakan,
harus disusun terlebih dahulu perencanaannya secara baik dan matang.
Perencanaan evaluasi hasil belajar itu umumnya mencakup enam jenis kegiatan,
yaitu:
a. Merumuskan
tujuan dilaksanakannya evaluasi. Perumusan tujuan evaluasi hasil belajar itu
penting sekali.
b. Menetapkan
aspek-aspek yang akan dievaluasi, misalnya apakah aspek kognitif, aspek
afektif, ataukah aspek psikomotorik.
c. Memilihdanmenentukanteknik
yang akandipergunakan di dalampelaksanaanevaluasi,
misalnyaapakahevaluasiituakandilaksanakandengantekniktesatauteknik non tes.
d. Menyusun
alat-alat pengukur yang akan dipergunakan dalam pengukuran dan penilaian hasil
belajar.
e. Menentukan
tolak ukur, norma atau kriteria yang akan dijadikan pegangan atau patokan dalam
memberikan interpretasi terhadap data hasil evaluasi.
f. Menentukan
frekuensi dari kegiatan evaluasi hasil belajar itu sendiri.
·
Menghimpun data
·
Melakukan verifikasi data
·
Mengolah dan menganalisis data
·
Memberikan interpretasi dan menarik kesimpulan
·
Tindak lanjut hasil evaluasi[4]
G.
Hasil Belajar
Sebagai Objek Evaluasi
Pertanyaan
pokok sebelum melakukan evaluasi ialah apa yang harus dinilai itu. Terhadap
pertanyaan ini kita kembali kepada unsur-unsur yang terdapat dalam proses
belajar-mengajar, yakni tujuan, bahan, metode dan alat serta penilaian. Tujuan
sebagai arah dari proses belajar mengajar pada hakekatnya adalah rumusan
tingkah laku yang diharapkan dapat dikuasai oleh siswa setelah menerima atau
menempuh pengalaman belajarnya (Nana, 1989).
Proses
adalah kegiatan yang dilakukan oleh siswa dalam mencapai tujuan pengajaran,
sedangkan hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah
ia menerima pengalaman belajarnya. Horward Kingsley membagi tiga macam hasil
belajar, yakni (a) keterampilan dan kebiasaan, (b) pengetahuan dan pengertian,
(c) sikap dan cita-cita. Dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan
pendidikan, baik tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional, menggunakan
klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom yang secara garis besar
membaginya menjadi tiga ranah, yakni ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.
Ø Ranah Kognitif
·
Pengetahuan
Istilah pengetahuan merupakan terjemahan dari
kata knowledge dalam taksonomi Bloom. Sekalipun demikian, maknanya tidak
sepenuhnya tepat sebab dalam istilah tersebut termasuk pula pengetahuan faktual
di samping pengetahuan hafalan atau diingat seperti rumus, batasan, definisi,
istilah, pasal dalam undang-undang, nama-nama tokoh, nama-nama kota.
·
Pemahaman
Tipe hasil belajar yang lebih tinggi daripada
pengetahuan adalah pemahaman. Misalnya menjelaskan dengan susunan kalimatnya
sendiri sesuatu yang dibaca atau didengarnya, memberi contoh lain dari yang
telah dicontohkan atau menggunakan petunjuk penerapan pada kasus lain.
Pemahaman dapat dibedakan ke dalam tiga kategori, tingkat pertama(terendah)
adalah pemahaman terjemahan, mulai dari terjemahan dalam arti yang sebenarnya,
misalnya dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia, mengartikan Bhinneka
Tunggal Ika, mengartikan merah putih. Tingkat kedua adalah pemahaman penafsiran,
yakni menghubungkan bagian-bagian terdahulu dengan yang diketahui berikutnya.
Tingkat ketiga atau tingkat tertinggi adalah pemahaman ekstrapolasi. Membuat
contoh item pemahaman tidaklah mudah. Sebagian item pemahaman dapat disajikan
dalam gambar, denah, diagram, atau grafik.
·
Aplikasi
Adalah penggunaan abstraksi pada situasi
konkrit atau situasi khusus. Abstraksi tersebut mungkin berupa ide, teori, atau
petunjuk teknis. Menerapkan abstraksi ke dalam situasi baru disebut aplikasi.
·
Analisis (Analysis)
Diartikan kemampuan menjabarkan atau
menguraikan suatu konsep menjadi bagian-bagian yang lebih rinci, memilah-milih,
merinci, mengaitkan hasil rinciannya. Contoh: Mahasiswa dapat menentukan
hubungan berbagai variabel penelitian dalam mata kuliah Metodologi Penelitian.
·
Sintetis (Synthetis)
Diartikan kemampuan menyatukan bagian-bagian
secara terintegrasi menjadi suatu bentuk tertentu yang semula belum ada.
Contoh: Mahasiswa dapat menyusun rencana atau usulan penelitian dalam bidang
yang diminati pada mata kuliah Metodologi Penelitian.
·
Evaluasi
(Evaluation)
Diartikan kemampuan membuat penilaian judgment
tentang nilai (value) untuk maksud tertentu. Contoh: Mahasiswa dapat
memperbaiki program-program computer yang secara fisik tampak kurang baik dan
kurang efisien pada mata kuliah Algoritma dan pemrograman (Suparman, 2001).
Ø Ranah Afektif
Ranah afektif adalah satu domain yang
berkaitan dengan sikap, nilai-nilai interest, apresiasi atau penghargaan dan
penyesuaian perasaan sosial. Tingkatan afektif ini ada 5, yaitu:
·
Kemauan Menerima
berarti keinginan untuk memperhatikan suatu
gejala atau rancangan tertentu seperti keinginan membaca buku, mendengar music,
atau bergaul dengan orang yang mempunyai ras berbeda.
·
Kemauan Menanggapi
Berarti kegiatan yang menunjuk pada partisipasi
aktif kegiatan tertentu seperti menyelesaikan tugas terstruktur, menaati
peraturan, mengikuti diskusi kelas, menyelesaikan tugas dilaboratorium atau
menolong orang lain.
·
Berkeyakinan
Berarti kemauan menerima sistem nilai tertentu
pada individu seperti menunjukkan kepercayaan terhadap sesuatu, apresiasi atau
penghargaan terhadap sesuatu, sikap ilmiah atau kesungguhan untuk melakukan
suatu kehidupan sosial.
·
Penerapan Karya
Berarti penerimaan terhadap berbagai sistem
nilai yang berbeda-beda berdasarkan pada suatu sistem nilai yang lebih tinggi,
seperti menyadari pentingnya keselarasan antara hak dan tanggung jawab,
bertanggung jawab terhadap hal yang telah dilakukan, memahami dan menerima
kelebihan dan kekurangan diri sendiri.
·
Ketekunan Dan Ketelitian
Berarti individu yang sudah memiliki sistem
nilai selalu menyelaraskan perilakunya sesuai dengan sistem nilai yang
dipegangnya, seperti bersikap objektif terhadap segala hal.
Ø Ranah Psikomotorik
Ranah psikomotor berkaitan dengan ketrampilan
atau skill yang bersikap manual atau
motorik. Tingkatan psikomotor ini meliputi:
·
Persepsi: Berkenaan dengan penggunaan indra
dalam melakukan kegiatan. Contoh: mengenal kerusakan mesin dari suaranya yang
sumbang.
·
Kesiapan melakukan suatu kegiatan: Berkenaan
dengan melakukan sesuatu kegiatan atau set termasuk di dalamnya mental set atau (kesiapan mental), physical set (Kesiapan fisik) atau emotional set(Kesiapan emosi perasaan
untuk melakukan suatu tindakan).
·
Mekanisme: Berkenaan dengan penampilan respon
yang sudah dipelajari dan menjadi kebiasan sehingga gerakan yang ditampilkan
menunjukkan kepada suatu kemahiran. Contoh: menulis halus, menari, menata
laboratorium dan menata kelas.
·
Respon terbimbing: Berkenaan dengan meniru (imitation) atau mengikuti, mengulangi perbuatan
yang diperintahkan atau ditunjukkan oleh orang lain, melakukan kegiatan
coba-coba (trial and error).
·
Kemahiran: Berkenaan dengan penampilan gerakan
motorik dengan ketrampilan penuh. Kemahiran yang dipertunjukkan biasanya cepat,
dengan hasil yang baik namun menggunakan sedikit tenaga. Contoh: tampilan
menyetir kendaran bermotor.
·
Adaptasi: Berkenaan dengan ketrampilan yang
sudah berkembang pada diri individu sehingga yang bersangkutan mampu
memodifikasi pada pola gerakan sesuai dengan situasi dan kondisi tertentu.
Contoh: orang yang bermain tenis, pola-pola gerakan disesuaikan dengan
kebutuhan mematahkan permainan lawan.
·
Organisasi: Berkenaan dengan penciptaan pola
gerakan baru untuk disesuaikan dengan situasi atau masalah tertentu, biasanya
hal ini dapat dilakukan oleh orang yang sudah mempunyai ketrampilan tinggi,
seperti menciptakan model pakaian, menciptakan tarian, komposisi musik (Uno, 2008).[5]
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Untuk meningkatkan mutu pembelajaran
dibutuhkan sistem evaluasi yang tepat, karena peserta didik memiliki berbagai
kemampuan yang berbeda-beda, maka sistem evaluasi yang digunakan harus
terintegrasi dan mampu mengukur semua kemampuan yang ada pada peserta didik.
Evaluasi pendidikan tidak hanya digunakan untuk mengukur ranah kognitif peserta
didik, tetapi juga harus menilai ranah afektif dan psikomotoriknya.
[1] Sukardi, Evaluasi Pendidikan,
(Jakarta: PT Bumi Aksara, 2009), hal.1
[2] Rusman, Manajemen Kurikulum,
(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2009), hal.93
[3] Missy Maesih, “Prinsip-Prinsip Penilaian Beserta Penerapan/Contohnya”,
diakses dari https://missymaesih.wordpress.com/2012/09/23/prinsip-prinsip-penilaian-beserta-penerapancontohnya/,
pada tanggal 21 September 2018 pukul 12.03.
[4]Kaharuddin Eka Putra, “Langkah-Langkah Evaluasi Hasil Pembelajaran”,
diakses dari http://kumpulanmakalahdanartikelpendidikan.blogspot.com/2011/01/evaluasi-hasil-belajar.html,
pada tanggal 21 September 2018 pukul 12.15.
[5]Gema Didaktika, “Komponen Evaluasi Pembelajaran”, diakses dari http://gemadidaktika.blogspot.com/2012/06/komponen-evaluasi-pembelajaran.html,
pada tanggal 21 September 2018 pukul 12.30.
0 comments:
Post a Comment
Monggo Komentarnya. . .