MAKALAH SEJARAH PERADABAN ISLAM
PERADABAN ISLAM MASA NABI MUHAMMAD
Disusun untuk memenuhi tugas
kelompok 2
Mata kuliah Sejarah Peradaban Islam
Dosen Pengampu: Lutfi Faishol, M.Pd
Disusun oleh:
Misbahusurur
Muhammad Akhyarul Mubin
Muhammad Fauzan
Ridwan Trisabila
PGMI A Semester 3
2018
INSITUT AGAMA ISLAM BUNGA BANGSA
CIREBON
KATA PENGANTAR
Dengan
menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, penulis
panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah memberikan
rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada penyusun, sehingga penyusun dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul Peradaban Islam Masa Nabi Muhammad.
Pembuatan
makalah ini merupakan tugas mata kuliah Sejarah Peradaban Islam yang di
kerjakan secara kelompok.
Makalah ini
berisi tentang Sejarah Peradaban Islam Pada Periode Makkah dan Periode Madinah;
yang mana penyusun telah berusaha semaksimal mungkin dan pastinya bantuan dari
berbagai pihak, sehingga penyusun mampu menyelesaikan makalah ini dengan tepat
waktu. Dengan itu penyusun sangat berterima kasih banyak kepada semua belah
pihak yang telah membantu terselesainya makalah ini.
Penyusun
menyadari sepenuhnya bahwa banyak kekurangan baik dari dalam susunan bahasa
maupun penulisan. Oleh sebab itu terbuka bagi penyusun saran dan kritik dari
pembaca kepada penyusun, sehingga penyusun dapat memperbaiki karya tulis ini.
Penyusun
berharap semoga makalah ini memberikan manfaat dan inpirasi kepada pembaca.
Cirebon,
Juli 2018
Penyusun
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
Pada awal mula Nabi Muhammad
mendapatkan wahyu dari Allah SWT, yang isinya menyeru manusia untuk beribadah
kepadanya, mendapat tantangan yang besar dari berbagai kalangan Quraisy. Hal
ini terjadi karena pada masa itu kaum Quraisy mempunyai sesembahan lain yaitu
berhala-berhala yang dibuat oleh mereka sendiri. Karena keadaan yang demikian
itulah, dakwah pertama yang dilakukan di Makkah dilaksanakan secara
sembunyi-sembunyi, terlebih karena jumlah orang yang masuk Islam sangat
sedikit. Keadaan ini berubah ketika jumlah orang yang memeluk Islam semakin
hari semakin banyak, Allah pun memerintah Nabi-Nya untuk melakukan dakwah secara
terang-terangan.
Bertambahnya penganut agama baru
yang dibawa oleh Nabi Muhammad, membuat kemapanan spiritual yang sudah lama
mengakar di kaum Quraisy menjadi terancam. Karena hal inilah mereka berusaha
dengan semaksimal mungkin mengganggu dan menghentikan dakwah tersebut. Dengan
cara diplomasi dan kekerasa mereka lakukan. Merasa terancan, Allah pin
memerintahkan Nabi Muhammad untuk berhijrah ke kota Madinah. Disinilah babak
baru kemajuan Islam dimulai.
1. Bagaimana Sejarah Singkat Nabi Muhammad?
2. Bagaimana Peradaban Islam dalam Periode Makkah?
3. Bagaimana Peradaban Islam dalam Periode Madinah?
1. Untuk Mengetahui Sejarah Singkat Nabi Muhammad.
2. Untuk Mengetahui Peradaban Islam dalam Periode Makkah.
3. Untuk Mengetahui Peradaban Islam dalam Periode Madinah.
Nabi Muhammad adalah anggota
BaniHasyim, suatu kabilah yang kurang berkuasa dalam suku Quraisy. Nabi
Muhammad lahir dari keluarga terhormat yang relatif miskin. Nabi Muhammad lahir
pada pagi hari senin 12 hari bulan Rabi’ul Awwal tahun pertama dari tahun gajah
yang masyhur yaitu 40 tahun setelah Kisra Anu Syirwan duduk di ats singgahsana
kerjaan Parsi, bertepatan dengan bulan April 571 Milady menurut perhutungan
Mahmud Pasja ahli falas Mesir yang terkenal ketika itu.[1] Ayahnya
bernama Abdullah anak dari Abdul Muthalib, seorang kepala suku Quraisy yang
besar pengaruhnya. Ibunya adalah Aminah Binti Wahab dari Bani Zuhrah. Tahun
kelahiran nabi dikenal dengan tahun gajah.
Muhammad lahir dalam keadaan yatim
karena ayahnya Abdullah, meninggal dunia tiga bulan setelah ia menikahi Aminah.
Muhammad kemudian diserahkan kepada ibu pengasuh, Halimah Sa’diyah. Dalam
asuhanyalah Muhammad dibesarkan sampai usia empat tahun. Setelah itu kurang
lebih dua tahun dia berada dalam asuhan ibu kandungnya. Ketika berusia enam
tahun dia menjadi yatim piatu. Seakan-akan Allah ingin melaksanakan sendiri
pendidikan Muhammad, orang yang dipersiapkan untuk membawa risalahNya terakhir.
Setelah Aminah meninggal, Abdul
Muthalib mengambil alih tanggung jawab merawat Muhammad. Namun dua tahun
kemudian Abdul Muthalibpun meninggal. Selanjutnya Nabi Muhammad dirawat oleh
pamannya Abu Thalib, seperti Abdul Muthalib, dia sangat disegani dan dihormati
oleh orang Quraisy dan penduduk Mekah secara keseluruhan, tetapi Abu Thalib ini
miskin.
Dalam usia muda Muhammad hidup
sebagai pengembala kambing keluarganya dan kambing penduduk Mekah. Melalui
kegiatan pengembalaan ini dia menemukan tempat untuk berfikir dan merenung.
Pemikiran dan perenungan ini membuat dia jauh dari pemikiran nafsu duniawi,
sehingga ia terhindar dari berbagai noda yang merusak namanya, karena itulah
Nabi Muhammad diberi gelar al-amin, orang yang terpercaya.
Nabi Muhammad ikut untuk pertama
kalinya berdagang ke Syria (Syam) dalam usia 12 tahun yang dipimpin oleh Abu
Thalib. Dalam perjalanan ini, di Bushra, sebelah selatan Syria, ia bertemu
dengan pendeta Kristen bernama Buhairah. Pendeta ini melihat tanda-tanda
kenabian pada Muhammad sesuai petunjuk-petunjuk cerita Kristen. Sebagian sumber
mengatakan bahwa pendeta itu menasihati Abu Thalib agar jangan terlalu jauh
memasuki daerah Syria, sebab dikuatirkan orang-orang Yahudi melihat tanda-tanda
itu dan berbuat jahat kepada Nabi Muhammad.[2] Pada
usia yang kedua puluh lima, Muhammad berangkat ke Syria membawa barang dagangan
saudagar wanita kaya raya yang telah lama menjanda, Khadijah. Khadijah adalah
janda Mekah yang berkedudukan tinggi. Pada masa sebelum Islam dia telah
memperoleh gelar Tahra artinya yang berbudi tinggi, karena kebajikan dan
keadilanya.[3]
Dalam perdangan ini Muhammad memperoleh laba yang besar. Khadijah kemudian
melamar Muhammad. Lamaran itu diterima dan menikahlah mereka, Muhammad dalam
usia 25 dan Khadijah pada usia 40 tahun. Dalam perkembangan selanjunya,Khadijah
adlah wanita yang pertama masuk Islam. Perkawinan bahagia dan saling mencintai
dikarunia enam orang anak dua putra dan empat putri:Qasim, Abdullah, Zainab,
Ruqayah, Ummu Kalsum, dan Fatimah. Kedua putra Nabi meninggal pada waktu kecil.
Nabi muhammad tidak pernah kawin lagi sampai Khadijah Meninggal dunia ketika
Muhammad berusia 50 tahun.
Peristiwa penting yang
memperlihatkan kebijaksanaan Muhammad terjadi pada usianya 35 tahun. Waktu itu
bangunan Ka’bah rusak berat. Perbaikan Ka’bah dilakukan secara gotong royong.
Para penduduk Mekah membantu kegiatan tersebut secara sukarela. Tetapi pada
saat terkahir,ketika pekerjaan tinggal mengangkat hajar aswad di tempatnya
semula timbul perselisihan. Setiap suku merasa berhak melakukan tugas terakhir
dan terhormat itu. Perselisihan semakin memuncak, namun akhinya para pemimpin
Quraisy sepakat bahwa orang yang pertama masuk ke Ka’bah melalui pintu Shafa,
akan dijadikan hakim untuk memutuskan perkara ini. Ternyata orang yang pertama
masuk itu adlah Muhammad. Ia pun dipercaya menjadi hakim. Muhammad kemudian
membentangkan kain dan meletakan hajar aswad di tengah-tengah, lalu meminta
seluruh kepala suku untuk memegang tepi kain itu dan mengangkatnya
bersama-sama. Setelah sampai pada ketinggian tertentu, Muhammad kemudian
meletakan batu itu pada tempatnya semula. Dengan demikian perselisihan dapat
diselesiakan dengan bijaksana dan semua kepala suku merasa puas dengan cara
penyelesain seperti itu.[4]
Disaat negerinya dalam keadaan kemerosotan akhlak dan moral,
kerusakan serta keruntuhan aqidah, merajalelanya kedhaliman dan keangkamurkaan.
Kondisi masyarakatnya itulah yang menjadi kekhawatiran beliau. Lalu beliau
mengasingkan diri di Gua Hira, dekat bukit Jabal Nur, sebuah tempat di luar
kota Makkah dalam rangka menenangkan fikiran untuk mencari jalan keluar atau
cara merubah masyarakatnya ke arah yang lebih baik. Di sana beliau
mendapatkan pemusatan jiwa yang lebih
sempurna ( Ibrahim Rif’at, 1925: Jilid I, 56-60)
Pada malam tanggal 17 Ramadhan, tahun 13 sebelum Hijriah bertepatan
dengan tanggal 6 Agustus 610 Masehi, pada waktu umurnya 40 tahun, datanglah
Malaikat Jibril dengan membawa wahyu yang pertama, yaitu surat al-‘Alaq ayat
1-5. (Hashbi Ashshiddiqi, dkk. 1977:960)[5]
Beberapa lama setelah menerima wahyu yang pertama, Malaikat Jibril
tidak datang lagi, yang dikenal masa jeda wahyu (fatrah al-wahyu). Nabi
senantiasa menantikan kedatangannya. Sebagai kebiasaan, beliau menunggu di Gua
Hira. Pada suatu hari terdengarlah suara dari langit, beliau menengadah dan
tampaklah Jibril, sehingga beliau ketakutan dan pulang ke rumah. Sesampainya di
rumah terus tidur dan diselimuti. Dalam berselimut itulah datang Jibril dengan
membawa wahyu kedua untuk disampaikan kepada beliau, yaitu surat
al-Mudatsir[74] ayat 1-7.
Dengan turunnya wahyu itu, Allah menentukan tahapan kerja yang
harus ditempuhnya, yaitu tingkat demi tingkat, agar sukses dalam tugasnya.
Tingkat-tingkat tersebut adalah sebagai berikut:[6]
Pertama: Berdiri (bekerja) menyampaikan Risalah wahyu, di saat
diterimanya wahyu itu tidak boleh ditunda-tunda waktunya.
Kedua: Mengancam kepada Manusia dengan siksaan Allah bila tidak
berhenti menyembah berhala-berhala itu.
Ketiga: Menyeru mereka mengenal Allah dan kebesaran-Nya. Ia Maha
Besar, tidak ada Tuhan selain Ia, tidak ada yang disembah selain Ia.
Keempat: Bekerja membersihkan diri dari segala kekejian, sebab di
dalam kebersihan badan dan baiknya tingkah laku terletak penghormatan dari manusia.
Kelima: Menjauhi segala dosa dan apa-apa yang tidak disukai Allah.
Keenam: Mempertabah diri untuk menanggungkan berbagai percobaan,
sabar atas segala kesulitan dan kesukaran yang dihadapi, tidak boleh bosan dan
mengeluh.
Rasulullah saw. lahir dan berkembang di Makkah
yang masyarakatnya sedang mengalami masa transisi yang hebat dalam berbagai
bidang, seperti sosial, agama dan politik. Ajaran Islam yang dibawa oleh
Muhammad pada umumnya merupakan keinginan untuk memperbaiki dan menyelamatkan
masyarakat Makkah dalam menjalani masa transisi ini.[7]
Dalam
faktanya, Muhammad saw. tidak bisa menjalankan dakwahnya secara efektif yang
membuahkan hasil yang memuaskan. Beberapa kondisi ikut melatari ketidak
efektifan dakwah Muhammad di Makkah. Penganut yang berhasil dipengaruhi oleh
Muhammadpun tidak seberapa jumlahnya karena memang beliau tidak bisa
melaksanakan dakwahnya secara terang-terangan. Ahirnya Nabi pun dakwah
secara sembunyi-sembunyi, hal ini telah di ketahui oleh quraisy, akan tetapi
dalam fase seruan dengan cara sembunyi ini quraisy tidak memperdulikannya,
karena mereka sungguh tiada mengira bahwa seruan itu akan hidup dan kuat, dan
akan di anut oleh orang yang banyak.[8]
Ada
beberapa fase yang dijalani oleh nabi Muhammad dalam memulai dan mengembangkan
ajaran yang beliau bawa.
a.
Dakwah
Secara Diam-Diam
Pada masa ini Rasul hanya mengajak
kerabat-kerabatnya untuk ikut memelukm agama Islam yang beliau bawa. Mereka
diseru untuk meyakini ajaran-ajaran pokok yang terkandung dalam wahyu yang ia
terima.[9]
Seorang
demi seorang diajak agar mau meninggalkan agama berhala dan hanya menyembah
Allah Yang Maha Esa. Usaha yang dilakukan itu berhasil. Orang-orang yang
mula-mula beriman adalah:
1)
Istri beliau sendiri, Khadijah
2)
Kalangan pemuda, Ali bin Abi Thalib, dan Zaid
bin Harits
3)
Dari kalangan budak, Bilal bin Rabbah
4)
Orang tua/tokoh masyarakat, Abu Bakar
al-Shiddiq. (A. Syalabi: 1983; 84)[10]
Disamping itu, juga banyak orang yang masuk Islam dengan
perantaraan Abu Bakar yang terkenal dengan julukan Assabiqunal Awwalun yaitu
orang-orang yang lebih dulu masuk Islam. Mereka adalah Usman bin Affan, Zubair
bin Awwan, Sa’ad bin Waqqash, Abdur Rahman bin ‘Auf, Thalhah bin ‘Ubaidillah,
Abu Ubaidah bin Jarrah, dan Al-Arqam bin Abil Arqam yang rumahnya dijadikan
markas untuk berdakwah secara sembunyi-sembunyi yang sampai sekarang masih
berdiri di Mekah. Rumah Ini terletak di bukit shafa yang banyak dikunjungi oleh
para jemaah haji dan penziarah lainya.[11]
b.
Dakwah Secara Terang-Terangan
Setelah
Nabi Muhammad melakukan dakwah yang bersifat rahasia, terhimpunlah pengikut
Nabi sebanyak tiga puluh orang. Dakwah dikala itu dilakukan secara diam-diam.
Setelah masa itu, Allah memerintahkan kepada Nabi untuk berdakwah secara
terang-terangan, yaitu dengan turunnya surat al-Hijr [15] ayat 94. (Hashbi
Ashshiddiqi, dkk. 1977:992)
Ayat
inilah yang memerintahkan pada Rasulullah untuk berdakwan secara terus terang
dan terbuka, pertama ditujukan kepada kerabat sendiri, kemudian seluruh lapisan
masyarakat.
Pada masa dakwah secara terang-terangan inilah Nabi mendapatkan
perlakuan yang buruk dari umatnya. Karena setelah dakwah terang-terangan itu,
pemimpin Quraisy mulai berusaha menghalangi dakwah Rasul seperti Abu Lahab, Abu
Jahal, Uqbah bin Abi Muith, Umayyah bin Khalaf dan tokoh-tokoh kafirlainya.[12] Karena
mereka juga melihat semakin bertambahnya jumlah pengikut Nabi, maka mereka pun
semakin keras melancarkan serangan-serangan, baik pada Nabi ataupun pada para
pengikut Nabi.
Berbagai cara dilakukan oleh pemuka-pemuka kaum Quraisy agar Nabi
menghentikan dakwahnya, saat itu mereka tidak berani melukai Nabi karena
perlindungan dari pamanya Abi Thalib yang sangat disegani dikalangan masyarakat
saat itu. Para pengikut Nabi yang juga termasuk kalangan bangsawan
terselamatkan dari siksa kaum Quraisy saat itu, dan bagi mereka yang tidak
memiliki perlindungan, harus menahan siksa yang pedih dari kaum Quraisy saat
itu. Di antaranya bahkan ada yang meninggal dan buta karena dahsyatnya
penyiksaan yang dilakukan kamu Quraisy. Akan tetapi semua itu tidak melemah[13]kan
semangat keimanan mereka. Nabi juga mendapatkan jalan buntu dalam dakwahnya.
Intinya Nabi dan para pengikutnya mendapat hambatan serta siksaan baik secara
fisik dan mental dari kaum Quraisy saat itu. Sehingga kemudian Nabi memutuskan
untuk menyebarkan dakwahnya di wilayah lain dengan harapan dakwahnya akan
berkembang dengan pesat alasan lainnya adalah untuk menghindari serangan dari
pemuka-pemuka Quraisy saat itu.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan dakwah beliau banyak mendapat
tantangan dari kamu Quraisy yaitu sebagai berikut:
a. Mereka tidak dapat membedakan antara kenabian dan kekuasaan.
Mereka mengira bahwa tunduk kepada seruan Nabi Muhammad berarti tunduk kepada
kepemimpinan Bani Abdul Muthalib.
b. Nabi Muhammad menyerukan persamaan hak antara bangsawan dan
hamba sahaya.
c. Para pemimpin Quraisy tidak mau percaya ataupun mengakui serta
tidak menerima ajaran tentang kebangkitan kembali dan pembalasan diakhirat.
d. Taklid kepada nenek moyang adalah kebiasaan yang berurat akar
pada bangsa Arab, sehingga sangat berat bagi mereka untuk meninggalkan agama
nenek moyang dan mengikuti agam Islam.[14]
e. Takut kehilangan mata pencarian karena pemahat dan penjual
patung memandang Islam sebagai penghalang rezeki mereka.[15]
Ada beberapa langkah yang dilakukan
kaum Quraisy dalam menantang dakwah Nabi Muhammad di Mekah di antaranya sebagai
berikut:
1. Membujuk, karena kekautan Nabi terletak pada perlindungan Abu
Thalib yang sangat disegani masyarakat Mekah maka kaum Quraisy meminta Abu
Thalib meminta satu di antara dua yaitu memerintahkan Muhammad agar berhenti
berdakwah atau menyerahkannya kapada mereka untuk dibunuh. Abu Thalib berharap
agar Muhammad berhentikan dakwahnya. Namun Nabi menolak dengan mengatakan “
Demi Allah saya tidak akan berhenti memperjuangkan amanat Allah ini. Walaupun
seluruh anggota keluarga dan sanak menggucilkan saya”. Abi Thalib sangat
terharu mendengarkan jawaban keponakannyaitu, kemudian ia berkata” Teruskanlah,
demi Allah aku akan terus membantu”.
Gagal dengan semua caranya kemudian
kaum Quraisy datang langsung untuk membujuk Nabi dengan menawarkan tahta,
wanita, dan harta asala Nabi bersedia menghintkan dakwahnya. Semua tawaran itu
ditolak Nabi dengan mengatakan “ Demi Allah, biarkan mereka meletakan matahari
di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, aku tidak akan berhenti
melakukan ini sehingga agama ini menang atau aku binasa karenanya”.
2. Mengintimidasi, karena gagal dengan cara membujuk, para
pemimppin Quraisy melakukan tindakan-tindakan kekerasan yang lebih intensif dari
sebelumnya. Budak-budak yang masuk Islam disiksa oleh tuanya dengan sangat
kejam. Para pemimpin Quraisy menyuruh meniyiksa setiap keluarga yang anggota
keluarganya yang masuk Islam untuk murtad kembali.Untuk menghindari kaum
muslimin daari tindakan kekejaman ini, nabi memerintakan mereka hijrah ke
Habasyah(Ethiopia).
3. Memboikot seluruh kelaurga Bani Hasyim. Tidak seorangpun
penduduk Mekah diperkenankan untuk melakukan hubungan jual beli dengan Bani
Hasyim. Akibatnya banyak dari Bani Hasyim yang menderita kelaparan. Hanya
karena kasihan beberapa pemimpin Quraisy menghntikan pemboikotan ini.
Pembokoitan ini dimulai pada tahun ke-7 kenabian hingga tahun ke -10 kenabian
menjelang Khadijah dan Abu Thalib, hal ini berlangsung selama tiga tahun.[16]
Menurut hemat penulis tentulah
tindakan-tindakan yang dilakukan kaum Quraisy ini sudah berlebihan. Akan tetapi
semangat dakwah Nabi Muhammad dan para sahabatnya lebih kuat sehingga kaum
Quraisy tidak bisa mematahkan semangat ini. Hendaknya pengalaman ini bisa kita
jadikan pelajaran dan motivasi sebagai calon penerus generasi muda Islam untuk
lebih giat dan tekun menyebarkan sekaligus memajukan Islam dibidang apapun.
1)
Materi Pendidikan Islam
Materi pendidik pada fase Makkah
dibagi kepaada dua bagian yaitu:
Pertama, materi pendidikan tauhid ,
materi ini lebih di fokuskan untuk memurnikan ajaran agama tauhid yang dibawa
nabi Ibrahim, yang telah diselewengkan oleh masyarakat jahiliah. Secara teori
inti sari ajaran tauhid terdapat dalam kandungan surat al- Fatihah Ayat 1-7 dan
surat al-Ikhlas Ayat 1-5 secara praktis pendidikan tauhid diberikan melalui
cara cara yang bijaksana, menuntun akan pikiran dengan mengajak umatnya
membaca,memperhatikan dan memikirkan kekuasaan dan kebesaranAllahdan diri
manusia sendiri. Kemudian beliaumengajarkan cara bagaimana mengaplikasikan
pengertian tauhid tersebut dalam kehidupan sehari hari Rasulullah lansung yang
menjadi contoh bagi umatnya. Hasilnya , kebiasaan masyarakat Arab yang memulai
perbuatan atas nama berhala, diganti dengan ucapan Bismillahirrahmanirrahim.
Kebiasaan menyembah berhala, diganti dengan mengagungkan dan menyembah Allah
SWT
Kedua, materi pengajaran Al-quran.
Materi ini dapat dirinci kepada:
a. Materi baca tulis Al-qur’an,
untuk sekarang ini disebut dengan materi imla’ dan iqra’. Dengan materi ini
dirahrapkan agar kebiasaan orang arab yang sering membaca syair syair indah,
diganti dengan membaca Al-qur’an sebagai bacaan yang lebih tinggi nilai
sastranya.
b. Materi menghafal ayat ayat Al-qur’an
, yang kemudian hari disebut dengan menghafalkan ayat ayat Al-qur’an.
c. Materi pemahaman Al-qur’an, saat
ini disebut dengan materi fahmi Al-qur’an atau tafsir Al-qur’an : tujuan materi
ini adalah meluruskan pola pikir umat islam yang di pengaruhi pola pikir
jahiliah. Di sinilah letaknya fungsi hadis sebagai bacaan Al-qur’an.
2) Metode Pendidikan Islam
Metode pendidikan yang dilakukan R
asulullah dalam mendidik sahabatnya antara lain:
a. Metode ceramah, menyampaikan
wahyu yang baru diterimanya dan memberikan penjelasan penjelasan serta
keterangannya.
b. Dialog, misalnya dialog antara
Rasulullah dengan Mu’az Ibn Jabal ketika Mu’az akan diutus sebagai kadi ke
negeri Yaman, dialog antara Rasulullah dengan sahabat untuk mengatur strategi
perang
c. Diskusi atau tanya jawab, sering
sahabat bertanya kepada Rasulullah tentang suatu hukum kemudian Rasul
menjawabnya
d. Metode perumpamaan, Misalnya
orang mukmin itu laksana tubuh, bila sakit salah satu anggota tubuh maka tubuh
lainnya akan merasakannya.
e. Metode kisah, misalnya kisah
nabi Muhammad dalam perjalanan Isra’ Mi’raj dan kisah pertemuan nabi Musa
dengan nabi Khaidir.
f. Metode Pembiasaan, membiasakan
umat muslim shalat berjamaah.
g.Metode hafalan, misalnya para
sahabat dianjurkan menjaga Al-qur’an dengan cara menghafalnya.
3. Lembaga Pendidikan Islam
Ada dua lembaga pendidikan Islam
fase Makkah yaitu :
a. Rumah Arqam Ibn Arqam, temapt
ini merupakan tempat pertama berkumpulnya kaum muslimin beserta Rasulullah
untuk belajar hukum hukum dan dasar dasar ajaran Islam. Rumah ini merupakan
lembaaga pendidikan pertama di dalam dunia Islam dan Rasulullah sendiri sebagai
pengajarnya.
b. Kuttab, pendidikan di kuttab
tidak sama dengan di rumah Arqam materi yang diajarkan di Kuttab adalah materi
baca tulis sastra,syair arab, dan pembelajaran berhitung namun seelah datang
Islam materinya ditambah dengan materi baca tulis Al-quran dan memahami hukum
hukum Islam.
Adapun kurikulum pendidikan Islam
yang digunaknan adalah Al-quran yang Allah wahyukan sesuai kondisi dan situasi,
kejadian dan peristiwa yang dialami umat Islam saat itu. [17]
Melihat situasi pendidikan zaman
sekarang jika dibandingkan dengan zaman Rasulullah dahulu, kemajuan pendidikan
Islam zaman sekarang sudah jauh tertinggal oleh bangsa barat. Walaupun belum
dengan sarana dan prasarana yang lengkap seperti sekarang namun Nabi dan
sahabatnya tetap semangat tampa takut mati dalam menyebarkan Islam. Memang
inilah tugas kita bersama pada zaman sekarang, dengan sarana dan prasaran yang
sudah lengkap hendaknya kita harus lebih semangat dan harus lebih maju dari
panji-panji Islam dalam menegakan agama Allah, tidak hanya pada satu bidang
saja akn tetapi kita harus bisa maju dan berkembang mencakup seluruh bidang
yang ada.
Selama perjalanan hijrah ke Madinah Rasulullah membangun 4 masjid
yang bersejarah.Beliau melakukan perjalanan menunggu tertidurnya pasukan
Quraisj yang mengepung rumah beliau, namun dengan beraninya Ali Bin Abu Tholib
menggantikan posisi tidurnya Rasulullah SAW.Akhirnya beliau bisa melaksanakan
perjalanan hijrah atas perintah Allah SWT.Tahu Muhammad tidak ada ditempat
pasukan Quraisj mengejar Rosulullah SAW.saat itu beliu berlindung bersama
sahabatnya Abubakar Assidiq r.a. di Jabal Tsur disebelah selatan dari Majidil
haram sejauh kurang lebih 6 km. Kaum kafir dalam mengejar Rosulullah Saw. tidak
menemukan, maka mereka terus mencari dimana-mana, tetapi tidak dapat
menemukannya pula.
Pembesar-pembesar kaum kafir
Quraisj telah membuat maklumat dalam keadaan hidup ataupun mati, akan diberi
hadiah 100 ekor unta, dengan demikian nafsu mengejar Muhammad semakin besar.
Sebenarnya kaum kafir Quraisj sudah sampai di gua Jabal Tsur, mereka
mendapatkan gua tersebut tertutup dengan sarang laba-laba, dan nampak disitu burung
merpati yang sedang menelor disarangnya. Dengan melihat kadaaan tersebut Nabi
Muhammad saw. tidak mungkin bersembunyi di gua tersebut. Hati sahabat Abubakar
Assidiq r.a. cemas dan gelisah kemudian turunlah Wahyu Allah surat Attaubah
ayat 40.
Setelah orang kafir Quraisj pergi beberapa hari kemudian Nabi Muhammad saw. dan sahabatnya meneruskan perjalanan ke Madinah
Setelah orang kafir Quraisj pergi beberapa hari kemudian Nabi Muhammad saw. dan sahabatnya meneruskan perjalanan ke Madinah
Ketika beliau sampai di Madinah,
disambut dengan syair-syair dan penuh kegembiraan oleh penduduk Madinah. Hijrah
dari Makkah ke Madinah bukan hanya sekedar berpindah dan menghindarkan diri
dari ancaman dan tekanan orang kafir Quraisy dan penduduk Makkah yang tidak
menghendaki pembaharuan terhadap ajaran nenek moyang mereka, tetapi juga
mengandung maksud untuk mengatur potensi dan menyusun srategi dalam menghadapi
tantangan lebih lanjut, sehingga nanti terbentuk masyarakat baru yang
didalamnya bersinar kembali mutiara tauhid warisan Ibrahim yang akan
disempurnakan oleh Nabi Muhammad SAW melalui wahyu Allah SWT[18]
Sejak hijrah ke Madinah,Nabi
Muhammad saw dan Para sahabat selalu berdakwah kepada penduduk. tanpa mengenal
lelah dan putus asa. Mereka terus berusaha menyebarkan ajaran Islam kepada
seluruh penduduk termasuk orang-orang Yahudi,Nasrani dan Kaum Pagan.
Mayoritas penduduk Madinah , terutama suku Aus dan suku Khazraj , menyambut
baik ajakan Nabi Muhammad saw, menyatakan kesetiannya kepada Nabi
Muhammad saw dan bersedia membantu beliau menyebarkan ajaran Islam.
Padahal sebelum menerima ajaran Islam,kedua suku ini selalu berperang.
Hal ini menambah semangat Nabi Muhammad saw dalam berdakwah.
Sementara , orang-orang Yahudi
merasa tidak senang kepada Nabi Muhammad saw dan para sahabat mereka. Mereka
merasa tersingkir sejak kehadiran suku Aus dan Khazrajuntuk
kembali ke Agama lama mereka.Bahkan mereka mulai menyusun kekuatan untuk
melemahkan umat Islam.
Setiap musim haji tiba, banyak
kabilah yang datang ke Mekah.Begitu juga nabi Muhammad SAW. Dengan giat
menyampaikan dakwah islam. Diantara Kabilah yang menerima Islam adalah Khajraj
dari Yatrib (Madinah).Setelah kembali ke negerinya, mereka mengabarkan adanya
Nabi terakhir.
Pada tahun ke 12 kenabiannya,
datanglah orang-orang Yastrib di musim haji ke Mekah dan menemui nabi di
Bai’atul Akabah. Di tempat ini mereka mengadakan bai’at (perjanjian) yang
isinya bahwa mereka setia pada nabi, tidak menyekutukan Allah, tidak mencuri,
tidak berzina, tidak membunuh anak kecil, tidak memfitnah, dan ikut menyebarkan
islam. Perjanjian ini dikenal dengan Bai’atul Akabah Ula (Perjanjian Akabah
Pertama) karena dilaksanakan di bukit akabah atau disebut Bai’atun Nisa’
(perjanjian wanita) karena didalamnya terdapat seorang wanita ‘Afra binti ‘Abid
bin Tsa’labah.
Islam mendapat lingkungan baru di kota Madinah. Lingkungan yang memungkinkan bagi Nabi Muhammad SAW untuk meneruskan dakwahnya, menyampaikan ajaran Islam dan menjabarkan dalam kehidupan sehari-hari (Syalaby,1997:117-119). Setelah tiba dan diterima penduduk Yastrib, Nabi diangkat menjadi pemimpin penduduk Madinah.Sehingga disamping sebagai kepala/ pemimpin agama, Nabi SAW juga menjabat sebagai kepala pemerintahan / Negara Islam.Kemudian, tidak beberapa lama orang-orang Madinah non Muslim berbondongbondong masuk agama Islam. Untuk memperkokoh masyarakat baru tersebut mulailah Nabi meletakkan dasar-dasar untuk suatu masyarakat yang besar, mengingat penduduk yang tinggal di Madinah bukan hanya kaum muslimin, tapi juga golongan masyarakat Yahudi dan orang Arab yang masih menganut agama nenek moyang, maka agar stabilitas masyarakat dapat terwujudkan Nabi mengadakan perjanjian dengan mereka, yaitu suatu piagam yang menjamin kebebasan beragama bagi kaum Yahudi. Setiap golongan masyarakat memiliki hak tertentu dalam bidang politik dan keagamaan.Di samping itu setiap masyarakat berkewajiban mempertahankan keamanan negeri dari serangan musuh. Adapun dasar-dasar tersebut adalah:
Islam mendapat lingkungan baru di kota Madinah. Lingkungan yang memungkinkan bagi Nabi Muhammad SAW untuk meneruskan dakwahnya, menyampaikan ajaran Islam dan menjabarkan dalam kehidupan sehari-hari (Syalaby,1997:117-119). Setelah tiba dan diterima penduduk Yastrib, Nabi diangkat menjadi pemimpin penduduk Madinah.Sehingga disamping sebagai kepala/ pemimpin agama, Nabi SAW juga menjabat sebagai kepala pemerintahan / Negara Islam.Kemudian, tidak beberapa lama orang-orang Madinah non Muslim berbondongbondong masuk agama Islam. Untuk memperkokoh masyarakat baru tersebut mulailah Nabi meletakkan dasar-dasar untuk suatu masyarakat yang besar, mengingat penduduk yang tinggal di Madinah bukan hanya kaum muslimin, tapi juga golongan masyarakat Yahudi dan orang Arab yang masih menganut agama nenek moyang, maka agar stabilitas masyarakat dapat terwujudkan Nabi mengadakan perjanjian dengan mereka, yaitu suatu piagam yang menjamin kebebasan beragama bagi kaum Yahudi. Setiap golongan masyarakat memiliki hak tertentu dalam bidang politik dan keagamaan.Di samping itu setiap masyarakat berkewajiban mempertahankan keamanan negeri dari serangan musuh. Adapun dasar-dasar tersebut adalah:
a. Mendirikan Masjid
Setelah agama Islam datang
Rasulullah SAW mempersatukan seluruh suku-suku di Madinah dengan jalan
mendirikan tempat peribadatan dan pertemuan yang berupa masjid dan diberi nama
masjid “Baitullah”. Dengan adanya masjid itu, selain dijadikan sebagai tempat
peribadatan juga dijadikan sebagai tempat pertemuan, peribadatan, mengadiliperkara
dan lain sebagainya.
b. Mempersaudarakan antara Anshor dan Muhajirin
Orang-orang Muhajirin datang
ke Madinah tidak membawa harta akan tetapi membawa keyakinan yang mereka anut.
Dengan itu Nabi mempersatukan golongan Muhajirin dan Anshor tersebut dalam
suatu persaudaraan dibawah satu keyakinan yaitu bendera Islam.
c. Perjanjian bantu membantu antara sesama kaum Muslim dan non Muslim
Setelah Nabi resmi menjadi penduduk
Madinah, Nabi langsung mengadakan perjanjian untuk saling bantu-membantu atau
toleransi antara orang Islam dengan orang non Islam. Selain itu Nabi mengadakan
perjanjian yang berbunyi “kebebasan beragama terjamin buat semua orang-orang di
Madinah”.
d. Melaksanakan dasar politik, ekonomi dan sosial untuk masyarakat
baru
Pada tahun 9 H dan 10 H (630–632 M)
banyak suku dari berbagai pelosok mengirim delegasi kepada Nabi bahwa mereka
ingin tunduk kepada Nabi, serta menganut agama Islam, maka terwujudlah
persatuan orang Arab pada saat itu. Dalam menunaikan haji yang terakhir atau
disebut dengan Haji Wada tahun 10 H (631 M) Nabi menyampaikan khotbahnya yang
sangat bersejarah antara lain larangan untuk riba, menganiaya, perintah untuk
memperlakukan istri dengan baik, persamaan dan persaudaraan antar manusia harus
ditegakkan dan masih banyak lagi yang lainnya. Setelah itu Nabi kembali ke
Madinah, ia mengatur organisasi masyarakat, petugas keamanan dan para da’i
dikirim ke berbagai daerah, mengatur keadilan, memungut zakat dan lain-lain.[19]
Di dalam periode Makkah
ciri pokok pembinaan pendidikan islam adalah pendidikan tauhid, maka pada
periode madinah ini ciri pokok pembinaan pendidikan islam dapat dikatakan
sebagai pendidikan sosial dan politik. Tetapi sebenarnya antara dua ciri
tersebut bukanlah merupakan dua hal yang dipisahkan satu dengan yang lain.
Kalau pembinaan pendidikan di Makkah titik pokoknya adalah menanamkan
nilai-nilai tauhid kedalam jiwa tiap individu muslim, agar dari jiwa mereka
terpancar sinar tauhid dan tercermin dalam perbuatan dan tingkah laku dalam
kehidupan sehari-hari. Sedangkan pembinaan pendidikan di Madinah pada
hakikatnya ialah merupakan lanjutan dari pendidikan tauhid di Makkah, yaitu
pembinaan di bidang pendidikan sosial dan politik agar dijiwai oleh ajaran tauhid,
sehingga akhirnya tingkah laku sosial politiknya merupakan cermin dan pantulan
sinar tauhid tersebut
a. Strategi
Dengan terbentuknya negara Madinah
Islam bertambah kuat sehingga perkembangan yang pesat itu membuat orang Makkah
risau, begitu juga dengan musuh–musuh Islam.
Untuk menghadapi kemungkinan gangguan–gangguan dari musuh, Nabi Muhammad SAW sebagai kepala pemerintahan mengatur siasat dan membentuk pasukan tentara.
Banyak hal yang dilakukan Nabi dalam rangka mempertahankan dan memperkuat kedudukan kota Madinah diantaranya adalah mengadakan perjanjian damai dengan berbagai kabilah di sekitar Madinah, mengadakan ekspedisi keluar kota sebagai aksi siaga melatih kemampuan calon pasukan yang memang mutlak diperlukan untuk melindungi dan mempertahankan negara yang baru dibentuk tersebut. Akan tetapi, ketika pemeluk agama Islam di Madinah semakin bertambah maka persoalan demi persoalan semakin sering terjadi, diantaranya adalah rongrongan dari orang Yahudi, Munafik dan Quraisy.Namun berkat keteguhan dan kesatuan ummat Islam, mereka dapat mengatasinya.[20]
Untuk menghadapi kemungkinan gangguan–gangguan dari musuh, Nabi Muhammad SAW sebagai kepala pemerintahan mengatur siasat dan membentuk pasukan tentara.
Banyak hal yang dilakukan Nabi dalam rangka mempertahankan dan memperkuat kedudukan kota Madinah diantaranya adalah mengadakan perjanjian damai dengan berbagai kabilah di sekitar Madinah, mengadakan ekspedisi keluar kota sebagai aksi siaga melatih kemampuan calon pasukan yang memang mutlak diperlukan untuk melindungi dan mempertahankan negara yang baru dibentuk tersebut. Akan tetapi, ketika pemeluk agama Islam di Madinah semakin bertambah maka persoalan demi persoalan semakin sering terjadi, diantaranya adalah rongrongan dari orang Yahudi, Munafik dan Quraisy.Namun berkat keteguhan dan kesatuan ummat Islam, mereka dapat mengatasinya.[20]
b. Metode Dakwah
Sejak tiba di Madinah, Rasulullah
memerintahkan para sahabatnya membangun masjid sebagai tempat sholat,
berkumpul, bermusyawarah serta mengatur berbagai urusan ummat.Sekaligus
memutuskan perkara yang ada di antara mereka.Beliau menunjuk Abu Bakar dan Umar
sebagai pembantunya.Beliau bersabda “dua (orang) pembantuku di bumi adalah Abu
Bakar dan Umar.”Dengan demikian Beliau berkedudukan sebagai kepala negara, qodi
dan panglima militer.Beliau menyelesaikan perselisihan yang terjadi di antara
penduduk Madinah dengan hukum Islam, mengangkat komandan ekspedisi dan
mengirimkannya ke luar Madinah.Negara Islam oleh Rasulullah ini dijadikan pusat
pembangunan masyarakat yang berdiri di atas pondasi yang kokoh dan pusat
persiapan kekuatan militer yang mampu melindungi negara dan menyebarkan
dakwah.Setelah seluruh persoalan dalam negeri stabil dan terkontrol, Baliau
mulai menyiapkan pasukan militer untuk memerangi orang-orang yang menghalangi
penyebaran risalah Islam.
Skema Metode Dakwah Rasulullah dalam periode Madinah.
Tahapan Penerapan Syarat Islam (tathbiq ahkam al Islam)
1. Membangun Masjid
2. Membina Ukhuwah Islamiyah
3. Mengatur urusan masyarakat dengan syariat Islam
4. Membuat Perjanjian dengan warga non muslim
5. Menyusun strategi politik dan militer
6. Jihad
Prinsip dakwah Rasulullah saw dapat
diturunkan dari fase atau pembabakan kehidupan Muhammad saw. Banyak ahli
yang merumuskan kehidupan Rasulullah dalam beberapa fase, yakni fase
pertamaMuhammad saw sebagai pedagang, fase kedua Muhammad saw sebagai
nabi dan rasul. Kedua fase ini berlangsung dalam periode Mekah. Fase
ketiga Muhammad saw sebagai politisi dan negarawan, dan fase
keempat Muhammad saw sebagai pembebas. Fase ketiga dan keempat berlangsung
dalam periode Madinah.
Dari keempat fase tersebut,
terlihat bahwa perjuangan Rasululllah saw dalam menegakan amanat risalahnya,
mengalami perkembangan dan peningkatan yang cukup penting, strategis, dan
sistimatis, menuju keberhasilan dan kemenangan yang gemilang, terutama dengan
terbentuknya masyarakat muslim di Madinah dan
terjadinya fathul Mekah. Juga sebagai dasar bagi perkembangan dan
perjuangan untuk menegakan dan menyebarkan ajaran Islam ke segala penjuru
dunia.
Dilihat dari langkah-langkah dan
sudut pandang pengembangan dan pembangunan masyarakat, terdapat tiga posisi
penting fungsi Rasulullah saw sebagai figur pemimpin umat, yakni: Pertama,
Rasulullah saw sebagai peneliti masyarakat, kedua, Rasulullah saw sebagai
pendidik masyarakat,ketiga Rasulullah saw sebagai negarawan dan pembangun
masyarakat.
Prinsip dakwah Rasulullah saw,
yaitu sebagai berikut:
1.Mengetahui medan (mad’u) melalui penelitian dan perenungan.
2.Melalui perncanaan pembinaan, pendidikan, dan pengembangan serta
pembangunan masyarakat.
3.Bertahap, diawali dengan cara diam-diam (marhalah sirriyah),
kemudian cara terbuka (marhalah alaniyyah). Diawali dari keluarga dan
teman terdekat, kemudian masyarakat secara umum.
4.Melalui cara dan strategi hijrah, yakni menghindari siutasi yang
negative untuk menguasai suasana yang lebih positif.
5.Melalui syiar dan pranata Islam, antara lain melalui khotbah,
adzan, iqamah, dan shalat berjamaah, ta’awun, zakat, dan sebagainya.
6.Melalui musyawarah dan kerja sama, perjanjian dengan masyarakat
sekitar, seperti dengan Bani Nadhir, Bani Quraidzah, dan Bani Qainuqa.
7.Melalui cara dan tindakan yang akomodatif, toleran, dan saling
menghargai.
8.Melalui nilai-nilai kemanusiaan, kebebasan, dan demokratis.
9.Menggunakan bahasa kaumnya, melalui kadar kemampuan pemikiran
masyarakat (ala qadri uqulihim).
10.Melalui surat. Sebagaimana yang telah dikirim ke raja-raja
berpengaruh pada waktu itu, seperti pada Heraklius.
11.Melalui uswah hasanah dan syuhada ala an-nas, dan melalui
peringatan, dorongan dan motivasi (tarhib wa targhib).
12.Melalui Kelembutan dan pengampunan. Seperti pada peristiwa
Fathul Mekah disaksikan para pemimpin kafir Quraisy sambil memendam kemarahan
dan kebencian.
Dari prinsip dan langkah-langkah
perjuangan Rasulullah saw di atas, dapat diturunkan kaidah-kaidah dakwah
Rasulullah saw sebagai berikut:
1) Tauhidullah, yakni sikap mengesakan Allah dengan sepenuh hati,
tidak menyekutukan-Nya, hanya mengabdi, memohon, dan meminta pertolongan kepada
Allah SWT. Sebagai pencipta dan pemelihara alam semesta. Kaidah ini bertujuan
untuk membersihkan akidah (tathir al-i’tiqad) masyrakat dari berbagai macam
khurajat dan kepercayaan yang keliru, menuju satu landasan, motivasi, tujuan
hidup dan kehidupan dari Allah dan dalam ajaran Allah menuju mardhatillah (min
al-Lah, fi al-Allah, dan ila Allah).
2) Ukhuwah Islamiah, yakni sikap persaudaraan antarsesama muslim
karena adanya kesatuan akidah, pegangan hidup, pandangan hidup, sistim sosial,
dan peradaban sehingga terjalinlah kesatuan hati dan jiwa yang melahirkan
persaudaraan yang erat dan mesra, dan terjalin pula kasih sayang, perasaan
senasib sepenanggungan, serta memperhatikan kepentingan orang lain, seperti
mementingkan kepentingan diri sendiri. Dengan demikian, terhindar dari sikap
individualisme, fanatisme golongan, fir’aunisme, materialisme, dan dari segala
penyakit jiwa lainnya.
3) Muswah, yakni sikap persamaan antar sesama manusia, tidak
arogan, tidak saling merendahkan dan meremehkan orang lain, tidak saling
mengaku paling tinggi. Ini karena perbedaan dan penghargaan di sisi Allah
adalah dilihat prestasi pengabdian dan ketakwaannya.
4) Musyawarah, yakni sikap kompromis dan menghargai pendapat orang
lain, tidak menonjolkan kepentingan kelompok, memperhatikan kepentingan bersama
untuk meraih kemaslahatan dan kebaikan bersama. Hal ini dilakukan oleh
Rasulullah saw, antara lain di Madinh, yaitu dengan munculnya Piagam Madinah.
Ayat-ayat yang dapat dirujuk dalam kaitannya dengan kaidah ini, antara lain:
Q.S. Ali-Imran: 159, Q.S. Asu’ara: 38.
5) Ta’awun, yakni sikap gotong-royong, saling membantu,
kebersamaan dalam menghadapi persoalan dan tolong-menolong dalam hal-hal
kebaikan. Ayat-ayat yang dapat dirujuk dalam kaitannya dengan kaidah ini,
antara lain: Q.S. Al-Maidah: 2, Q.S. At-Taubah: 71, q.s. Al-Anfal: 46.
6) Takaful al-ijtima, yakni sikap pertanggungjawaban bersama
senasib sepenanggungan, kebersamaan dan sikap solidaritas sosial. Ayat-ayat yang
dapat dirujuk dalam kaitannya dengan kaidah ini, antara lain: Q.S. At-Tahrim:
6, Q.S. Al-Baqarah:195.
7) Jihad dan Ijtihad, yakni sikap dan semangat
kesungguh-sungguhan, serius menunjukan etos kerja yang tinggi, kreatif,
inovatif dalam penyelesaian yang dihadapi. Ayat-ayat yang dapat dirujuk
dalam kaitannya dengan kaidah ini, antara lain: Q.S. Ash-Shaff: 4, 10-13.
8) Fastahiq al-khayrat, yakni sikap dan semangat berlomba-lomba
dalam kebaikan, pada berbagai lapangan hidup dan kehidupan. Ayat-ayat yang
dapat dirujuk dalam kaitannya dengan kaidah ini, antara lain: Q.S. Ali-Imran:
114, Q.S. Al-Mu’minun: 57,61, Q.S. Al-Hadid: 21.
9) Tasamuh, yakni silap toleransi, tenggang rasa, tidak memaksakan
kehendak, mengikuti dan melaksanakan sesuatu dengan landasan ilmu, saling
menghargai perbedaan pandangan. Ayat-ayat yang dapat dirujuk dalam
kaitannya dengan kaidah ini, antara lain: Q.S. Az-Zumar: 18, Q.S. Al-Baqarah:
256, Q.S. Al-Ankabut: 46, Q.S. An-Nahl: 125, 109, 1-6.
10) Istiqamah, yakni sikap dan semangat berdisiplin, tidak goyah,
berjalan terus di atas ajaran yang benar dengan penuh kesabaran. Ayat-ayat
yang dapat dirujuk dalam kaitannya dengan kaidah ini, antara lain Q.S.
Fushshilat: 6, 30, 32, Q.S. Al-Ahqaff: 13-14, Q.S. Asy-Syu’ara: 13-15.[21]
Dalam perjalanan dakwahnya , Nabi
Muhammad saw banyak menemui rintangan. Rintangan itu muncul sebagai akibat
adanya masyarakat Madinah yang tidak dapat menerima kepemimpinan Nabi Muhammad
saw.
Dibawah pimpinan Abdullah
bin Ubay bin Salul, mereka menjalin hubungan rahasia dengan kaum kafir
Qurasiy di Mekkah. Mereka selalu melaporkan perkembangan umat Islam di Madinah
dengan Maksud menekankan kekuasaan Nabi Muhammad saw. Hal ini merupakan awal
terjadinya peperangan dengan kaum kafir quraisy.Peperangan yang kemudian
terjadi adalah Perang Badar, Perang Uhud, dan Perang Khandak.
a) perang badar
Terjadinya Perang Badar dipicu
oleh rasa iri orang-orang kafir Quraisy terhadap keberhasilan Nabi
Muhammad saw, menguasai dan mempersatukan masyarakat Madinah.Peperangan ini
terjadi pada 17 Ramadhan tahun ke -2 H atau 8 Januari 623 M disalah satu sumber
mata air yaitu Badar.
Dalam Perang Badar kaum muslimin
hanya berjumlah 313 orang yang dipimpin langsung oleh Nabi Muhammadsaw,
sedangkan pasukan kafir Quraisy berjumlah 1.000orang yang dipimpin
oleh Abu Sufyan. Sebelum perang dimulai , terjadi perang tanding
antara kedua belah pihak. Pihak umat Islam diwakili Ubaidah bin
Harits,Hamzah bin Abdul Muttalib dan Ali bin Abi Thalib. Pasukan
Quraisy diwakili Syaibah bin Rabi'ah dan Utbah bin Rabi'ah dan Walid
bin Utbah. Dalam perang ini pasukan kaum muslimin mengalami kemenangan
dengan gemilang.Abu Jahal terbunuh dan 14 muslimin gugur sebagai syahid.
b) Perang uhud
Setelah mengalami kekalahan dalam
perang Badar , Abu Sufyan menyiapkan pasukan dengan persenjataan lengkap.
Bahkan mengundang pasukan Badui untuk bergabung. Terbentuklah pasukan kafir
Quraisy dengan rincian 3.000 pasukan tempur yang didalamnya
terdapat 700 pasukan bertameng dan 200pasukan berkuda. Pada tahun 3
H, dibawah komando Abu Sufyan,pasukan itu bergerak menuju Madinah.
Pada hari Kamis 21 Maret 625 M,mereka berada dihilir
Lembah Uhud. Pasukan Islam berjumlah 1.000 orang,akan
tetapi ditengah perjalanan, 300 orang membelot dibawah pimpinan Abdullahbin
Ubay bin Salul. Kedua pasukan bertemu di BukitUhud , pada
awal peperangan, tentara muslim memperoleh kemenangan . Akan tetapi , ketika
perang hampir selesai pasukan Pemanah umat islam meninggalkan posisinya untuk
mengambil harta rampasan. Akibatnya pasukan Islam mendapat serangan dari
pasukan kafir yang dipimpin oleh Khalid bin Waliddari belakang.
Akhirnya , pasukan Islam tidak mampu bertahan dan mengundurkan diri dari medan
perang. Akibat perang ini ,70 orang pasukan Islam gugur, sedangkan 23 pasukan
kafir tewas. Seusai perang ,Hindun istri Abu Sufyan mengoyak-koyak
isi perut Hamzah , paman Nabi Muhammad saw, yang gugur dalam pertempuran itu.
Ia melampiaskan dendam atas terbunuhnya ayahnya, Utbah bin rabi'ah,
oleh Hamzah bin Abdul Muttalib dalam perang Badar.
c) perang khandak
Perang yang terjadi berikutnya
adalah Perang Khandak. Setelah mengalami kekalahan dalam perang Uhud ,
pasukan Islam sekarang lebih kuat . Pada tahun 327 M, orang-orang kafir
Quraisy, Yahudi dan Suku Badui mampu membentuk pasukan yang berkekuatan 10.000
personil.Diantaranya 600 pasukan berkuda yang
dipimpin Abu Sufyan. Untuk menghadapi musuh, Nabi Muhammad saw
mengerahkan 3.000 pasukan tempur. Berdasarkan saran dari SalmanAl
Farisi, kaum muslimin membuat sistim pertahanan berupa parit yang mengitari
perbatasan Kota Madinah.Penggalian dilakukan oleh pasukan Islam sendiri .Abu
Sofyan sebagai pemimpin pasukan Quraisy memutuskan mundur karena tidak
sanggup lagi menghadapi perang.Peperangan dimenangkan oleh Kaum muslimin.
Kemenangan ini membuat nama umat Islam dan Kota Madinah makin harum. Hali in
menyebabkan para pembesar negara tetangga tertarik untuk bekerja sama dengan
pemerintah Kota Madinah.
Setelah 6 tahun menetap di Kota
Madinah, timbul keinginan kaum Muhajirin
untuk menunaikan ibadah haji sekaligus mengunjungi tanah kelahiran mereka. Nabi
Muhammad saw mengunjungi Mekkah bersama para sahabat pada bulan Zulkaidah
tahun ke-6 H atau 628 M untuk menunaikan ibadah haji. Para pemuka
kafir quraisy berusha menghadang rombongan umat Islam ,ketika mengetahui
keberangkatan tersebut.Dalam tradisi Arab,bulan Zulkaidah diharamkan untuk
mengadakan peperangan,kebencian telah membuat mereka mengabaikan tradisi
itu.[22]
Ketika rombongan umat Islam sampai di sebuah tempat bernama Hudaibiyah yang berjarak sekitar 6 mil dari kota Mekkah ,mereka berhenti . Nabi Muhammad saw mengutusUsman bin Affan untuk mengabarkan kepada kaum kafir Quraisy maksud dan tujuan mereka. Kaum kafir quraisy bersikeras tidak mengizinkan rombongan umat Islam memasuki Mekkah,Perundingan sangat alot . Walaupuun demikian ,mereka berhasil membuat kesepakatan yang dikenal dengan perjanjian Hudaibiyah . Diantaranya isinya sebagai berikut :
Ketika rombongan umat Islam sampai di sebuah tempat bernama Hudaibiyah yang berjarak sekitar 6 mil dari kota Mekkah ,mereka berhenti . Nabi Muhammad saw mengutusUsman bin Affan untuk mengabarkan kepada kaum kafir Quraisy maksud dan tujuan mereka. Kaum kafir quraisy bersikeras tidak mengizinkan rombongan umat Islam memasuki Mekkah,Perundingan sangat alot . Walaupuun demikian ,mereka berhasil membuat kesepakatan yang dikenal dengan perjanjian Hudaibiyah . Diantaranya isinya sebagai berikut :
a) Kedua belah pihak mengadakan gencatan senjata selama 10 tahun.
b) Setiap orang diberi kebebasan untuk memilih menjadi pengikut Nabi
Muhammad saw atau kaum kafir quraisy.
c) Kaum muslimin wajib mengembalikan orang Mekkah yang menjadi
pengikut Nabi Muhammad saw. di Madinah tanpa alasan yang benar kepada
walinya,sedangkan kaum kafir qurasiy tidak wajib mengembalikan orang Madinah
yang menjadi pengikut mereka.
d) Kunjungan rombongan umat Islam untuk menunaikan ibadah haji
ditangguhkan pada tahun berikutnya. Lama kunjungan paling lama adalah 3 hari
dan tidak boleh membawa senjata.
Setelah perjanjian Hudaibiyah situasi
menjadi aman dan tidak ada peperangan. Pengikut Nabi Muhammad saw yang
semula hanya berjumlah sekitar 1.400 orangbertambah menjadi
hampir 10.000 orang. Hal ini disebabkan orang-orang Qurasisy
banyak bersimpati terhadap Nabi Muhammad saw. Sebelumnya,para sahabat
tidak menyetujui isi perjanjian Hudaibiyah. Mereka menganggap perjanjian
itu hanya merugikan umat Islam. Akan tetapi , Nabi Muhammad saw, menyikapi
Perjanjian Hudaibiyah secara arif . Nabi Muhammad saw memanfaatkan situasi aman
dan damai setelah Perjanjian Hudaibiyah.Beliau mengirimkan
duta-dutanya ke negara tetangga untuk mengajak mereka memeluk agama Islam.
Ajakan itu diterima oleh beberapa penguasa negeri tetangga dan ditolak oleh
beberapa negeri tetangga lainnya, Sebagian menolak ajaran itu adalah raja
Persia. Penolakan itu menyebabkan munculnya permusuhan dan peperangan yang
besar antar kedua belah pihak di kemudian hari.
Sesudah melaksanakan hajji wada’
(hajji perpisahan) Rosululloh kembali ke Madinah. Beliau mengatur
kabilah-kabilah yang telah masuk islam sampai habis sisa masa hidupnya. Beliau
mengirim pada Da’i ke berbagai daerah untuk mengajarkan agama Islam.Ia juga
mengatur peradilan islam serta mengatur cara-cara pemungutan zakat.
Salah satu mubaligh yang dikirim adalah Muaz bin Jabal ke negeri
Yaman, beliau terkenal sebagai ulama yang pertama kali menggunakan ijtihad jika
tidak ada dasar hukum di dalam al-Qur’an maupun al-Hadis.
Nabi Muhammad Saw menyiapkan pasukan untuk memerangi orang Romawi di Balqa
(Yordania), yang dipimpin oleh Usamah bin Zaid bin Harisah yang baru
berusia 18 tahun. Akan tetapi tidak jadi berangkat karena Rosul mendadak sakit.
Rosululloh Saw, pada waktu itu juga menerima wahyu yang terakhir, yaitu: surat
al-Maidah ayat 3.
Artinya:....... pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu
agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam
itu Jadi agama bagimu. ......
Dua bulan setelah hajji wada’
kesehatan Rosululloh berangsur-angsur memburuk, badannya panas. Walaupun
demikian, ia tetap mengimami sholat. Dalam khotbahnya yang terakhir beliau
bersabda:”Akuu berwasiat kepada kalian untuk berbuat baik terhadap orang
Anshor. Sesungguhnya orang-orang Ansor adalah orang dekatku dimana aku
berlindung kepada mereka. Mereka telah melalui apa yang menjadi beban mereka
dan masih tersisa apa yang menjadi hak mereka. Oleh karena itu, berbuat baiklah
kepada siapa saja diantara mereka yang berbuat baik dan maafkan siapa saja
diantara mereka yang berbuat kesalahan”.
Tiga hari menjelang wafat, beliau
tidak dapat mengimami sholat, dan menunjuk Abu Bakar As-Shidiq sebagai
pengganti imam sholat.Sehari sebelum wafat beliau memerdekakan para budak
lelakinya; beliau juga menyedekahkan uang sisa sebanyak 7 Dinar.Beliau
memberikan senjata-senjatanya kepada kaum muslimin.
Pada waktu dluha beliau memanggil
putrinya (Fatimah); dan membisikan kepadanya bahwa beliau akan segera dipanggil
menghadap Alloh Swt. Menndengar hal itu Fatimah menangis. Kemudian, beliau
berbisik lagi bahwa anggota keluarga yang pertama akan menyusulnya adalah
Fatimah; kemudian Fatimah tersenyum.
Setelah itu Nabi memanggil cucunya
(Hasan dan Husain); beliau juga memanggil istri-istrinya dan anggota keluarga
yang lain. Beliau memberikan wasiat yang terakhir:”Ingatlah sholat dan
Taubatlah”.Tidak berapa lama kemudian beliau menghembuskan nafasnya yang
terakhir.Beliau wafat pada hari Senin tanggal 12 Rabi’ul awwal 11 H. Atau
8 Juni 632 M.
Rosululloh berdakwah mensyiarkan
agama Islam selama 23 tahun.Ketika meninggal beliau hanya mewariskan 2 harta
pusaka yang besar yaitu al-Quran dan al-Hadis.Beliau berjuang tak kenal
lelah sehingga berhasil mendirikan negara Islam yang pertama di Madinah; serta
mampu menyatukan suku-suku Arab di bawah naungan syariat Islam.[23]
Berita wafatnya Nabi Muhammad
tersebar luas ke seluruh penjuru Madinah. Suasana sedih, haru menyelimuti kota
itu. Ketika Umar bin Khotob mendengar berita kematian Rosul, beliau
berdiri dan termenung seakan tidak bisa menerima atas kematian Sang Rosul. Ia
berkata:”Sesungguhnya beberapa orang munafiq menganggap bahwa Nabi Muhammad
Saw telah wafat. Sesungguhnya beliau tidak wafat, tetapi pergi ke hadapan
Tuhannya, seperti yang dilakukan Musa bin Imron yang pergi dari kaumnya. Demi Alloh
dia benar-benar akan kembali. Barang siapa yang beranggapan bahwa beliau wafat,
kaki dan tangannya akan kupotong”.[24]
Setelah mendengar berita wafatnya
Nabi, Abu Bakar As-Shidiq segera menemui Aisyah. Ia membuka kain
kafan dan berkta:”Kalau kematian sudah menjadi ketetapan Engkau, berarti
engkau benar-benar telah meninggal dunia”. Abu Bakar menerima atas
kematian Sang Rosul; kemudian ia menemui Umar bin Khotob dan berkata:”Barang
siapa menyembah Muhammad, sesungguhnya Muhammad sudah mati. Barang siapa menyembah
Alloh, sesungguhnya Alloh Maha Hidup dan tidak mati”.
Dalam periode Makkah ketika Muhammad SAW berada
di Gua Hira untuk mencari ketenangan dan mencari jalan keluar atas sikap
masyarakatnya yang penuh dengan kedhaliman, saat itu juga Malaikat Jibril
datang untuk memberikan wahyu yang pertama, yaitu surat al-‘Alaq ayat 1-5 yang
bertepatan dengan tanggal 17 Ramadhan tahun 13 sebelum Hijriah atau tanggal 6
Agustus 610 M. Selang beberapa waktu, Nabi Muhammad tidak pernah menerima wahyu
lagi karena masa itu dinamakan masa jeda wahyu (fatrah wahyu), sebagai
kebiasaan beliau yaitu menyendiri di Gua Hira, terdengar suara dari langit dan
nabi menengadah ke langit dan tampaklah Malaikat Jibril. Karena ketakutan, nabi
pulang ke rumahnya lalu tidur berselimut, dan dengan ini maka turunlah wahyu
yang kedua yaitu surat al-Mudatsir ayat 1-7 yang menerangkan bahwa Allah telah
memerintahkan kepada Nabi agar mendakwahkan ajarannya. Sebelumnya nabi mengajak
kepada kerabat-kerabatnya yang terdekat, seperti kepada istrinya, kepada bani
Hasyim, dan juga kepada temannya yaitu Abu Bakar. Diantara orang yang pertama
masuk islam atau dikenal sebagai Assabiqunal Awwalun yaitu, Khadijah dari
kalangan perempuan, dari kalangan pemudanya yaitu Ali bin Abu Thalib juga Zaid
bin Harits, dari kalangan budak yaitu Bilal bin Rabah, juga dari kalangan tokoh
masyarakat yaitu Abu Bakar Ash-Shidiq.
Setelah berdakwah secara sembunyi-sembunyi,
akhirnya Allah memerintahkan kepada Nabi untuk berdakwah secara terang-terangan
dengan turunnya surat al-Hijr ayat 94. Namun, berdakwah secara terang-terangan
ini membuat para tokoh-tokoh Makkah marah yang akhirnya mereka memboikot dakwah
nabi selama 3 tahun.
Setelah terjadi pemboikotan, maka Allah
menurunkan wahyu kepada Nabi agar hijrah ke kota Yastrib (Madinah saat itu).
Dalam periode madinah nabi melakukan dakwahnya
dengan menekankan kepada aspek sosial dan politik, seperti contohnya dengan
menjadikan keluarga dari kalangan Anshor bagi Muhajirin. Aspek politiknya yaitu
dengan melakukan sebuah perjanjian-perjanjian atau yang biasa disebut dengan
bai’at aqobah, juga melakukan perdamaian dengan suku-suku yang ada di kota
madinah.
Penyusun mengetahui betul
bahwa buah karya yang dipergunakan untuk memenuhi tugas ini yang jauh sempurna,
maka penulis sangat mengharapkan kritik atau saran dari para pembaca. Kritik
atau saran bagi penulis adalah sesuatu yang sangat berarti untuk menjadi yang
lebih baik lagi.
Demikian yang dapat kami
paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya
masih banyak kekurangan dan kelemahannya, karena terbatasnya pengetahuan dan
kurangnnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan makalah ini.
Penulis banyak berharap
para pembaca yang budiman bisa memberikan kritik dan saran yang membangun
kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan penulisan makalah dikesempatan
berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para
pembaca yang budiman pada umumnya.
HAMKA, 1975, Sejarah Umat Islam, Jakarta:Bulan Bintang.
Muhammad Husain Haekal, 1993, Sejarah Hidup Muhammad,
Jakarta: Litera Antarnusa.
Mahmudunnasir, 2005, Islam
Konsepsi dan Sejarahnya (Terj. Adang Afandi), Bandung: PT Remaja Rosda
Karya.
Badri Yatim, 2006, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta:PT
RajaGrafindo Persada
A.Syalabi. 1990. Sejarah
dan Kebudayaan Islam. Bandung: Pustaka Al Husna.
Munir Subarman, 2013, Sejarah Kelahiran Dan
Perkembangan Peradaban Islam, Yogyakarta: CV Budi Utama
Hasan Ibrahim Hasan, 2009, Sejarah dan Kebudayaan Islam,
Jakarta:Kalam Mulia
Raghib As-Sirjani, 2013, Ensiklopedi
Sejarah Islam, (Terj. M. Taufik & Ali Nurdin), Jakarta: Pustaka
Al-Katsar
Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthy,
2006, Sirah Nabawiyah:AnalisiS Ilmiah Manhajiah Sejarah Pergerakan Islam di
Masa Rasulullah saw, (Terj. Aunur Rafiq Shaleh Tahmid), Jakarta:Robbani
Press.
Listiawati Susanti, 2013, Sejarah Peradaban Islam,
Pekanbaru: Suska Press
Syamruddin Nasution, 2013, Sejarah Peradaban Islam,
Pekanbaru:Yayasan Pusaka Riau
Samsul Nizar, 2008, Sejarah Pendidikan Islam,
Jakarta:Kencana
Nasution, Harun, 1982, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta.
Prof. Dr. H. Samsul Nizar, M. Ag.
1999, Sejarah Pendidikan Islam: Menelusuri Jejak Sejarah Era Rasulullah
Sampai Indonesia, Jakarta: Prenada Media Group.
Al-Islam II “Muamalah dan Akhlaq”,1999, Bandung: CV. Pustaka
Setia.
Buku Panduan Madrasah Aliyah Kelas XII
Dodikasuma.blogspot.com
[1] HAMKA, 1975, Sejarah
Umat Islam, Jakarta:Bulan Bintang, h. 144
[2] Muhammad Husain
Haekal, 1993, Sejarah Hidup Muhammad, Jakarta: Litera Antarnusa, Cet. 16, h.56
[3] Mahmudunnasir, 2005,
Islam Konsepsi dan Sejarahnya (Terj. Adang Afandi), Bandung: PT Remaja Rosda
Karya, Cet. V, h. 90
[4] Badri Yatim, 2006,
Sejarah Peradaban Islam, Jakarta:PT RajaGrafindo Persada, h. 18
[5] Munir Subarman, 2013, Sejarah Kelahiran Dan
Perkembangan Peradaban Islam, Yogyakarta: CV Budi Utama, h. 44-46
[6] Ibid, hal. 46
[7] A.Syalabi. Sejarah dan Kebudayaan
Islam. hlm. 85.
[8] Ibid.
[9] Ibid. hlm. 86.
[10] Munir Subarman, 2013, Sejarah Kelahiran Dan
Perkembangan Peradaban Islam, Yogyakarta: CV Budi Utama, h. 47
[11] Hasan Ibrahim Hasan,
2009, Sejarah dan Kebudayaan Islam, Jakarta:Kalam Mulia, h. 148
[12] Raghib As-Sirjani,
2013, Ensiklopedi Sejarah Islam, (Terj. M. Taufik & Ali Nurdin), Jakarta:
Pustaka Al-Katsar, h.12
[13] Muhammad Sa’id
Ramadhan al-Buthy, 2006, Sirah Nabawiyah:AnalisiS Ilmiah Manhajiah Sejarah
Pergerakan Islam di Masa Rasulullah saw, (Terj. Aunur Rafiq Shaleh Tahmid),
Jakarta:Robbani Press, Cet. 17, h. 84
[14] Listiawati Susanti,
2013, Sejarah Peradaban Islam, Pekanbaru: Suska Press, h. 16
[15] Syamruddin Nasution,
2013, Sejarah Peradaban Islam, Pekanbaru:Yayasan Pusaka Riau, h. 36
[16] Syamruddin Nasution,
2013, Sejarah Peradaban Islam, Pekanbaru:Yayasan Pusaka Riau, h. 37-38
[17] Samsul Nizar, 2008,
Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta:Kencana, hh. 34-37
[19] Nasution,
Harun : Filsafat Pendidikan Islam 1982 Jakarta.
[20] Buku Panduan
Madrasah Aliyah Kelas XII
[21] Prof. Dr. H. Samsul
Nizar
[23] Al-Islam II
“Muamalah dan Akhlaq
[24] Nasution, Harun
0 comments:
Post a Comment
Monggo Komentarnya. . .